Berita Terkini

Tong Komposter Harum Aromanya

Banyak warga yang mengeluh memanfaatkan tong komposter beresiko bau. Apalagi mereka yang memiliki penginapan, homestay atau restoran, pasti enggan memanfaatkan tong komposter. Ini dulu. Generasi baru tong komposter Rumah Kompos Padangtegal sudah di rancang bebas bau.

Berita baiknya, seluruh warga Padangtegal dipersilahkan menukar tong komposter lama dengan versi baru, gratis tanpa dipungut biaya apapun. Kecuali kalau tong yang lama pecah atau kran rusak. Kalau harus ganti, harga tong Rp 200.000 dan kran Rp 10.000.



Tong rancangan baru ini didesain tanpa lubang udara (pipa pernapasan). Kenapa demikian? Karena pipa pernapasan sebenarnya hanya efektif untuk pembuatan kompos non cair (solid compost). Contohnya seperti pembuatan kompos organik di Rumah Kompos Padangtegal atau TPA Temesi. Untuk membuat kompos cair, media pernapasan ini tidak berguna. Bukan hanya tidak berguna, tapi justru membuat udara tidak sedap didalam tong terbang ke sekitarnya.

Kenapa tidak berfungsi? Karena dalam kompos cair semua permukaan terendam. Jadi kalo diisi pernapasan tetap juga terendam cairan. Kalau kompos padat masih menyisakan ruang untuk udara masuk.
 
Karena tanpa pipa udara, tong generasi baru ini justru sangat simpel. Baik dalam membuat dan memperbaikinya. Kalo suatu saat ada penyumbatan karena kotoran (jarang sekali terjadi sumbatan asal terus dimasukkan bahan baru, tidak dibiarkan ngendon diam sampai bahan kompos mengeras dan kering), jalur pipa bisa dibersihkan dari lubang pembuangan luar, tanpa harus bongkar – pasang.

Kalau tidak ada lubang sirkulasi, dari mana bakteri dan binatang pengurai memeroleh pasokan oksigen? Jawabannya dari udara yang ada di dalam tong dan celah antara tutup dan bodi. Makanya disarankan tong tidak harus penuh. Sisakan ruang udara minimal 1/5 dari tinggi tong. Selain aman dari kemungkinan tumpah, ruang kosong ini juga menjaga oksigen tetap tersedia.

Juga, posisi kran dibuat lebih tinggi dari desain komposter generasi pertama. Ada dua kentungan: pertama mempermudah pengambilan cairan dan yang kedua memperbanyak tandon cairan di dalam. Semakin banyak tandon cairan didalam, makhluk-makhluk pengurai semakin mudah berkembangbiak, semakin cepat menghasilkan cairan kompos. 

Penempatan kran lebih tinggi juga menghindari kebocoran kran, karena tekanan cairan yang berlebihan. Kenapa tidak memakai kran yang lebih kuat, menghindarkan dari kebocoran? Sengaja kita pakai kran dispenser, sifatnya hanya menahan tekanan, bukan mengunci. Kalau tekanan berlebih, kran akan otomatis bocor. Ini menghindarkan tong dari kemungkinan meledak, jika tutup terkunci rapat dan lupa dibiarkan dalam jangka lama (berbulan-bulan) hingga terbentuk gas amonia dari proses penguraian.

Ulat banyak pertanda kaya gizi dan pembawa kesuburan
Salah satu tantangan yang banyak diutarakan pemakai komposter adalah banyaknya ulat. Sebenarnya ini gejala sangat baik dan alami. Semakin banyak ulat, artinya kandungan gizi di dalam komposter tersebut sangat tinggi. Kalau ulat tidak ada, berarti di dalam tong tersebut banyak zat beracun seperti pestisida.

Inilah yang justru harus dilogikakan secara terbalik dan pemikiran ilmiah. Di daerah pertanian yang subur, sudah pasti banyak cacing, ulat, kupu-kupu, tawon, berbagai serangga, jubel, kodok, ikan, dan ratusan hewan-hewan kecil lainnya. 

Nah, kenapa tanah-tanah pertanian yang dulu subur dan dihuni banyak hewan-hewan kecil penjaga kesuburan tersebut sekarang justru tandus? Kelihatan subur hanya ketika digenangi air, padahal sebenarnya ini tanpa humus, hanya tanah yang kehilangan gizi. Buktinya ketika ketika tidak ada hujan dalam rentang du bulan saja, tanah sudah mengering dan pecah-pecah.

Kenapa bisa demikian? Banyak hal mempengaruhi. Salah satu karena karena terlalu banyak plastik di aliran air dan zat dioksinnya meracuni hewan-hewan kecil tersebut. Selain plastik, Green Revolution yang dihela presiden Soeharto berekses membludaknya pemakaian pestisida dan pupuk buatan. Berbagai pembasmi serangga, tikus, hama yang akhirnya berakibat hewan-hewan yang mestinya menjaga kesuburan tanah seperti ulat dan cacing ikut mati dan punah.

Mau tahu lebih banyak bahaya dioxin dan manfaat cacing bagi kesuburan. Klik kolom Bakti Ibu Pertiwi di halaman awal dalam website ini. Di sana diulas dioksin sebagai zat karcinogen, pemicu berbagai penyakit kanker dan gangguan kesuburan. Juga peran cacing sebagai agen penjaga kesuburan tanah.

Kembali ke tong komposter. Kembali pada ulat dan cacing. Banyaknya ulat dan cacing dalam tong pertanda kandungan gizi sangat tinggi dalam tong. Sama dengan model pertanian tempo dulu. Jadi sayang kalo bahan yang demikian kaya gizi bagi tanaman ini dibuang percuma bersama sampah. Lebih baik dimanfaatkan untuk pupuk tanaman keluarga.

Mana lebih sehat, bayam atau kol hijau mulus atau ada bolong-bolong bekas dimakan ulat?

Jelas yang bolong-bolong ada bekas dimakan ulat. Kenapa? Karena sayur yang hijau mulus berarti banyak mengandung pestisida, hingga ulat tidak berani menyentuh, atau menyentuh tapi telah sekarat atau mati sebelum sempat mencicipi. Sayur yang bolong-bolong bekas dimakan ulat justru jauh lebih sehat karena itulah yang alami. Tidak banyak kandungan pembasmi hama.

Banyak yang berargumen bahwa asal dicuci, bekas pestisida pasti larut dan terbuang. Nah, ini pendapat umum. Pendapat para ahli sangat berbeda. Bahan utama pestisida sama dengan bahan plastik, yakni dioksin. Sifat dioksin menjauh dari air dan menyatu dengan lemak. Istilah kerennya water-fearing, fat-loving, atau bahasa para ahli: aquaphobic – pobia air, lipophilic – mengikat lemak. Di sayuran dan buah-buahan, bahan ini lengket menyatu dengan lemak, tidak bisa dibersihkan dengan air. Apalagi pada biji-bijian yang kandungan lemaknya lebih tinggi. Kalau daging? Gak usah dibahas lagi, kandungan lemaknya paling tinggi, daya ikat dioksin juga paling hebat.

Bagaimana mengurangi populasi ulat?

Mudah saja, tuang cairan sebanyak-banyaknya. Tuang sisa kuah, minuman, teh, kopi, air cucian beras, air bekas cucian bahan makanan. Masih kurang? Tambahkan air biasa. Usahakan permukaan sisa makanan terendam dalam cairan.
Intinya, permukaan air minimal ¾ dari tinggi tong, jadi sisa makanan/sayur/buah/kulit dan dedaunan yang dimasukkan terendam sempurna di dalam tong.

Kalau banyak air, jenis ulat yang berkembang biak adalah ulat jenis perenang. Ulat perenang tidak suka merambat ke bibir tong, mereka asyik berenang dalam cairan yang kaya gizi. Kalau kurang air, ulat yang berkembangbiak adalah jenis perambat. Mereka suka memanjat dan naik ke bibir tong.

Anti Bocor, meski diisi penuh

Nah, ini yang penting. Tong generasi baru, karena tidak perlu pipa pernapasan, dijamin anti bocor meski diisi hingga penuh. Pada tong lama, cairan sering tumpah lewat pipa udara ini. Karena bebas bocor, berarti isi cairan tong lebih banyak dan aman dipindah-pindahkan. Untuk menjamin anti bocor, pastikan karet seal silikon tetap terpasang ketika membersihkan pipa.


Benarkah tong harum seperti judul tulisan?

Aha, ini judul untuk menarik perhatian anda agar penasaran membaca. Yang benar, tong komposter ini tidak berbau apapun. Kalau naruh tong di dekat bunga jepun yang harum aroma jepun. Kalo dekat jempiring ya semerbak jempiring. Yang jelas tidak mengeluarkan bau. Lebih tepatnya, bau hanya beberapa detik saat dibuka untuk memasukkan sisa makanan atau sampah organik lainnya. Dalam keadaan biasa, tong ini sama sekali tidak mengeluarkan bau. Sama sekali.

Pesannya jelas, selain memanfaatkan komposter, rajin-rajinlah menanam, menanam apa saja, bunga, buah, sayur, tanaman hias, atau bahkan jenis rerumputan. Agar tanaman dan bunga-bunga makin hijau dan mekar, manfaatkan kompos cair dari tong ini. Dijamin halaman subur makmur, bumi semakin hijau dan seluruh pekarangan harum aromanya, walaupun dihalaman anda memakai komposter yang dulu dibilang bau itu.

Supardi Asmorobangun 20/08/2015

 

Pemuda Bergerak, Desa Pakraman Semarak

Anggota dan pengurus Sekhaa Taruna Desa Pakraman Padangtegal berkumpul di Rumah Kompos pada Minggu pagi (9/8) lalu untuk merencanakan aksi nyata gerakan muda-mudi peduli kebersihan desa.



Bendesa I Made Gandra memberikan sambutan dan dukungan semangat kepada
anak muda untuk berkarya

Hadir pada pertemuan tersebut ketua atau perwakilan ketua dan pengurus lima sekhaa di Desa Pakraman Padangtegal, yakni Padangtegal Kaja, Kelod, Mekarsari, Padang Kencana, dan Padangtegal Tengah. Meski secara administratif tidak masuk dalam desa dinas Padangtegal, ST Padangtegal Tengah siap bersatu dengan rekan-rekan pemuda di Padangtegal untuk berpartisipasi dalam tiap gerakan pemuda pembaharu desa.

Dua aksi nyata yang diagendakan adalah dalam waktu dekat (akhir Agustus atau awal September) mengadakan gerakan kebersihan masal di Gang Anila dan dalam jangka panjang mengajak muda mudi mulai mempersiapkan dan memikirkan cara membuat Ogoh-ogoh dari bahan organik (bebas stiroform) untuk perayaan Nyepi tahun 2016.

Pertemuan Minggu tersebut merupakan kelanjutan dari rapat sebelumnya pada Sabtu, 11 Juli lalu.

"Kita mulai saja dengan langkah nyata. Kita cukupkan rapat dan langsung bergerak. Dengan bergerak dan aksi nyata, ini akan menjadi energi pendorong anak-anak muda untuk bersatudan berkarya," sambut ketua ST Padangtegal Kaja Kadek 'Awa' Dwi Utama.

"Dengan aksi nyata  kita bisa menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa pemuda-pemudi memiliki kepedulian kepada desa. Ini akan lebih menggugah masyarakat.untuk berempati terhadap gerakan cinta lingkungan ," demikian lanjut Kadek Awa.

Masih menurut Kadek Awa, pemuda sudah semestinya tidak memikirkan kenapa harus mengabdi di lain banjar. "Kalau ada kasus lingkungan di (Gang) Anila, ya semua bergerak ke Anila, kalau suatu saat ada yang mesti diselesaikan di Kaja, Mekarsari atau manapun, kita bersama-sama bergerak ke sana.

Sementara untuk rencana pembuatan ogoh-ogoh dari bahan organik tahun depan, mayoritas pemuda-pemudi yang hadir setuju dengan ide tersebut.  

Ide pembuatan ogoh-ogoh organik mulai menghangat karena saat ini hampir semua ogoh-ogoh dibuat dengan bahan utama stiroform, bahan yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Stiromform adalah jenis plastik dengan kandungan dioksin sangat tinggi dan dengan mudah tersebar ke alam ketika dibakar atau kena panas matahari.

Jadi, ide awalnya adalah membuat ogoh-ogoh seperti tradisi tahun 1980an ketika industri plastik dan steroform belum membumi. Saat itu semua bagian ogoh-ogoh berbahan organik seperti anyaman bambu dan adukan bahan kertas dengan air.

Supardi Asmorobangun 09/08/2015


Pesan Kebersihan Lingkungan Ida Pedanda Made Gunung



Ida Pedanda Made Gunung
Ida Pedanda Made Gunung mengajak masyarakat Bali 
menjauhi penggunaan plastik, demi kelestarian ibu pertiwi.
Tim Rumah Kompos berkunjung ke pasraman Ida Pedanda Made Gunung di Blahbatuh, Gianyar, akhir Juni lalu, untuk wawancara mengenai issu kebersihan pulau dewata, terutama ancaman sampah plastik yang makin serius.

Pendeta paling berpengaruh di Bali, Ida Pedanda Made Gunung, di luar perhatiannya pada masalah ibadah dan keagamaan, adalah tokoh yang memiliki perhatian sangat luar biasa pada kebersihan Bali, terutama dari tantangan sampah plastik.

Inilah pesan-pesang lengkap beliau. Pesan-pesan ini akan ditayangkan dalam bentuk potongan iklan iklan pendek di stasiun TV lokal di Bali, setelah mendapat dukungan sponsor dari pihak ketiga.

Jaga Bali, Ganti Bungkus Plastik dengan Daun

Om Swastiastu,

Saudara-saudara, saya sudah dari lama sekali berpikir tentang keadaan alam kita khususnya di Bali, yaitu bumi yang kita cintai ini, akhir-akhir ini memang sangat menyedihkan dan memang sangat memprihatinkan terutama di bidang kebersihan. Kebersihan bukan saja dari sampah-sampah organik, yang paling menakuti saya, yang paling memprihatinkan hati saya adalah dari sampah plastik.

Kenapa saya prihatin? Saya sudah sering bertemu dengan saudara-saudara kita dari luar negeri apakah mereka orang Amerika, orang Kanada, orang Australia yang sangat (ber)simpati dengan kita, yang sangat menyayangi bumi kita. Mereka kalo boleh dikata sampai mengeluarkan air mata melihat alam yang kita miliki dan satu satunya (yang paling unik) di planet dunia ini sudah banyak dikotori plastik. Dalam hal ini saya tidak begitu bisa menyalakan Si A atau si B. Yang jelas agar saudara-saudara tahu, bahwa plastik itu adalah satu benda yang yang diciptakan dari unsur kimia yang sangat berbahaya baik bagi tanah sendiri karena akan menjadi tanah yang kering, maupun dampaknya bagi makhluk hidup, utamanya pada kita manusia.

Nah lalu pertanyaan saya, siapakah yang membuang plastik. Itulah pertanyaan saya: Apakah plastik itu datang sendiri dari langit atau plastik dibuang oleh anjing yang sedang berjalan, atau plastik itu dibuang oleh siapa? Yang jelas plastik itu dibuang oleh manusia. Oleh karena itu saya himbau pada saudara-saudara saya. Siapapun dan dimanapun anda berada tolong jangan dianggap main-main pesan yang mengatakan “awas plastik, plastik itu berbahaya!” Sekali lagi jangan dianggap main-main! Karena apa? Karena menurut para ahli, plastik yang dibuang itu (sampai) 400 ratus tahun belum terurai di bumi. Coba anda bayangkan 400 tahun sampai berapa generasi? Kalau sekarang kita membuang plastik di bumi berarti 400 tahun ke depan generasi kita itu sengsara oleh kita, oleh ulah kita yang sekarang.

Oleh karena itu, apa kita tega anak cucu kita, cicit kita kita nanti sengsara, sakit-sakitan bermacam macam oleh dampak ulah kita yang membuang plastik seenaknya? Jadi, begitu kita makan makanan yang dibungkus dengan plastik, maka pikiran kita harus kepada generasi selanjutnya. Jangan kita racuni mereka dari sekarang.

Jadi andai anda makan makanan berbungkus plastik sekarang, tolong pikir, plastiknya saya buang ke mana? Kalo kita buang sembarangan berarti kita meracuni generasi yang akan datang, itu yang pertama. Yang kedua, saya juga pernah bicara dengan beberapa saudara kita dari luar negeri yang memang ahli di bidang itu, dan mereka juga sangat memperhatikan apa yang (biasa) kita lakukan disini. Menurut mereka, coba kalau anda berani buktikan sekarang, anda membakar plastik setiap hari, di situlah di samping asap plastik itu (anda) diam, tunggu dalam enam bulan, kanker akan terjadi pada diri anda. Kalau tidak percaya silahkan buktikan sendiri. Bumi sekarang ini sudah diplastikkan.


Khusus untuk orang Hindu di Bali, mereka dari ajaran agamanya sangat menyayangi bumi, dengan istilah pertiwi. Setiaaap ada upacara kita sembahyang ke Dewa Matahari sebagai bapak kita yang ada di langit, kemudian kita  sembahyang pada Ibu Pertiwi. Aduuuuh, kenapa kita sembahyang (sekaligus) kita menyakiti, kita mengotori, kita menjelekkan beliau. Coba, pernahkah anda dengar: Walaupun engkau dapat membakar mayat ibumu di atas telapak tanganmu, belum terbayar jasanya. Nah kalo begitu bumi itu (kita tahu) bagamana jasa bumi terhadap kita?

Oleh karena itu saudara-saudara, saya inginkan anda harus mengerti tentang bahaya plastik. Kemudian marilah kita pelan-pelan mengganti kebiasaan kita, mengganti kebiasaan kita untuk tidak menggunakan plastik, mengganti kebiasaan kita untuk tidak menggunakan plastik. Nah, misalnya apa? Dagang-dagang gunakanlah daun atau kertas untuk membungkus. Ibu ibu jangan bangga bawa tas plastik ke pasar, jadi bawalah tas yang bukan dari bahan plastik.

Jadi bagaimana saudara-saudara bahwa kita ingin pelan, pelan, pelan, pelan kita akan kembali seperti nenek moyang kita, tidak mengenal (dan) tidak menggunakan plastik. Saya salah kalau saya mengatakan pabrik plastik ditutup. Saya salah dan saya tidak berhak. Tetapi pabrik itu akan tertutup sendiri apabila kita tidak menggunakan plastik. Otomatis mereka akan tertutup kalo kita tidak menggunakan plastik. Coba bayangkan, si penjual plastik dapat untung uang, tertawa, si pengguna plastik dapat kepraktisan, tetapi dalam ketertawaan mereka, dalam kepraktisan mereka itu, mereka tidak merasa, bahwa generasi yang akan datang teracuni. Itu yang menurut saya sangat menyedihkan sekali. Marilah saudara-saudara  bersama sama. Saya, walaupun saya ngomong tentang plastik ini, saya tidak ada punya sponsor, hanya Tuhan yang sponsori saya.

Saya yakin bahwa Tuhan mendengar apa yang saya katakan. Bahwa saya menyayangi ibu pertiwi, bahwa saya menghormati ibu pertiwi, karena semua apa yang saya makan dan apa yang saya lakukan adalah hasil dari beliau sendiri.

Oleh karena itu saya yakin, apabila anda sayang pada ibumu, (seharusnya) sama kamu sayang kepada bumi ini. Itu yang pertama. Yang kedua, kepada saudara-saudara saya yang datang ke pura, ingin sembahyang, membawa tempat sajen dan sebagainya dari plastik, saya tidak melarang. Nah coba anda pikirkan, di nata pura itu aduuuuh ada (banyak) plastik bukan seperti pura, seprti TPA jadinya. Coba anda berpikir, di satu pihak anda berpikir bawa saya mau menyucikan dan menyembah beliau, di lain pihak kita membuang sampah seenaknya di halaman yang suci, termasuk sampah plastik. Saya sering mendengar, bukan hanya mendengar, maksud saya meliahat langsung.

Apa sih sulitnya kita ngambil plastik itu, walaupun bukan kita yang membuang? Orang lain membuang anda yang ngambil? Pernahkah anda membaca karmapala. “Sekecil apapun karmamu wahai manusia, aku kan memberikan memberikan pahala nya baik maupun buruk.”

Kalo kita memungut plastik itu karma, itu jelas karma baik. Walaupun pahala itu tidak berupa material (tiba-tiba) sekarang glebuk emas satu karung jatuh dari langit, tidak, tapi apa yang kita lakukan akan mendapatkan proses yang lebih mudah. Kalo kita sudah menyayangi bumi ini, menyayangi Tuhan.

Nah, saya kembali kepada keyakinan agama kita, bahwa kalau misalnya kita mengotori bumi, sama dengan mengotori Tuhan. Kalo kita mengotori Tuhan, sama dengan mengotori diri sendiri. Saya bertanya, siapa sih Tuhan itu, sebenarnya. Siapakah yang bisa menyebutkan nama Tuhan, kan hanya manusia khan?

Pada manusia lah salah satu dari bagian kecil daripada Tuhan itu ada, (Tuhan) itu ada pada diri manusia: “Atman brahmanayam, aham brahmanasmi.” Jadi aku adalah tuhan, dalam diriku ada unsur Tuhan. Kenapa kita membuang plastik seenaknya dan tidak menyadari bahwa diri kita sendiri adalah Tuhan, bahwa Tuhan itu sendiri ada pada diri kita.

Nah, oleh karena itulah saudara-saudara, kita secara bersama-sama marilah kita sadari bahwa apa, bukan plastik saja, apa saja yang membuat bumi ini sengsara dan menyengsarakan isinya termasuk diri anda sendiri, jangan dilakukan. Jangan dilakukan itu! Saya juga nyelip sedikit, di sawah sekarang jarang sekali ada lindung, jarang sekali ada jubel, jarang sekali ada cucut. Karena apa? Karena anda membuang plastik di saluran air. Mahkluk itu teracuni. Itu yang pertama.

Yang kedua, banyak yang menggunakan pestisida yang mana semua itu akan menghancurkan mahluk-makluk kecil yang membuat kesuburan tanah. Sadarkah kita itu? Mana ada sekarang orang jual pes lengis misi blauk di Bali? Nggak ada kan? Mana sekarang ada capung, karena capungnya sudah tidak ada. Kenapa karena ulah siapa? Bukan karena ulah anjing atau harimau. Tapi karena ulah manusia. Siapakah manusia, ya anda dan saya. Harus sadar dong itu! Oleh karena itulah pada pokoknya mudah-mudahan Tuhan mendengar apa yang kita katakan. Apapun yang saya katakan, apa pun ada yang dengar kita mulai sekarang kalau boleh jangan lagi menggunakan plastik. Kalau boleh, mari kita berkarma: setiap mata menyentuh plastik dengan sukarela kita mengangkat dan ditempatkan pada tempatnya.

“Lalu kemana sampah plastik ini saya bawa, pranda? Sampah plastik yang banyak itu?” Nah, banyak dong kita cari informasi. Misalnya cari teman kita yang punya pabrik kompos, yang membuat pupuk kompos itu, biasanya di sana mereka juga (memiliki perhatian) mengolah plastik. Yang saya tahu di Echo Bali juga ada. Dimana saja, pokoknya kumpul saja. Dan saya berterimakasih sekali baru kemarin saya baru datang dari dalem puri Besakih, di sana saya liat ada tong besar khusus plastik, ada gelas plastik, ada botol plastik, pokoknya semua dikumpul (di situ). Aduuuh, saya terharu sekali. Kalo saja semua orang seperti itu, Bali ini akan seperti program pemerintah Bali yaitu Clean-Green. Tidak dalam mulut saja, Clean-Green dalam kenyataan. Mari kita lakukan hal itu.

Saudara-saudara, itulah yang saya ingin (sampaikan) bahwa mengotori alam sama dengan mengotori diri sendiri, dan sama (dengan) secara implisit melecehkan keberadaan Tuhan.

Terima kasih, Om santih, santih, santih, Om.


Supardi Asmorobangun 29/06/2015