Bakti Ibu Pertiwi


Menuju Bumi Yang Hijau Bersih Dan Lestari


Om Swastiastu

Bumi adalah rumah kita, atau lebih tepatnya ibu kita. Namun saat ini kita menyaksikan bagaimana bumi berubah. Banyaknya bencana yang terjadi akibat perubahan iklim global seperti banjir dan kekeringan yang akhir-akhir ini melanda banyak wilayah merupakan salah satu tanda bahwa keseimbangan alam mulai berubah. Hal ini tak lepas dari perilaku manusia dalam memanfaatkan alam itu sendiri. Selain akibat terjadinya penggundulan atau pembakaran hutan, pelepasan gas CO2 berlebihan lewat corong pabrik dan mesin kendaraan, pembukaan lahan-lahan baru untuk pemukiman, peternakan atau ladang bercocok tanam, bumi juga rusak karena sampah plastik yang menumpuk, pemakaian pupuk kimia dan pestisida tak terkendali.

Dalam skala kecil, Bali juga mengalami hal yang sama, baik karena faktor global maupun karena ulah warga yang tinggal di pulau ini. Sebagai daerah kunjungan pariwisata, pulau seribu pura ini semestinya berupa kawasan yang hijau dan bersih sebagai salah satu faktor penting pendukung kepuasan wisatawan yang berkunjung. Namun demikian, kurangnya kesadaran dalam mengelola alam dengan bijak telah membuat pulau ini terancam berbagai tantangan: banjir, kekeringan atau kekurangan pasokan air, over-capacity, lalu lintas semakin padat , dan sampah yang menggunung. Hal ini mempunyai dampak buruk pada kelestarian alam yang sebenarnya merupakan salah satu aset dalam pengelolan Bali sebagai daerah wisata.
Untuk menciptakan Bali yang hijau, bersih dan lestari, perlu penanganan serius masalah sampah, terutama plastik. Agar cita-cita ini terwujud, perlu diperkenalkan pemikiran baru bahwa sampah harus dilihat sebagai aset yang memiliki nilai ekonomis, baik sebagai bahan pupuk kompos rumah tangga maupun bahan kerajinan atau industri yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selama ini, masyarakat menganggap sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang karena tidak bernilai ekonomi. Sehingga kita sering melihat masyarakat membakar atau membuang sampah sampah begitu saja. Tidak mengherankan, sampah (terutama plastik) banyak teronggok di berbagai sudut kota dan desa, seperti selokan, sungai, tepi jalan, trotoar, lahan kosong, tanah tak bertuan, bahkan di pematang sawah atau di antara hijau bulir-bulir padi.
Langkah ini akan mengurangi beban pengelolaan sampah yang ditangani pemerintah, sekaligus memberikan citra positif, bahwa sebagai destinasi pariwisata, Bali memiliki komitmen menjaga kelestarian alam sejak dari lingkungan rumah tangga. Dengan partisipasi maksimal masing-masing rumah tangga untuk mengelola sendiri produksi sampahnya, sehingga tiap rumah tangga diusahakan tidak membuang sampah keluar area rumah. Idealnya, akan tercipta rumah tangga yang zero sampah, karena produksi sampah organik bisa diubah menjadi pupuk cair/padat dan sampah non organik bisa dijual kepada pengepul.
Kami yakin dengan semakin banyaknya warga yang mengerti tentang perlunya melakukan perubahan tentang cara penanganan sampah, kita bersama mampu membuat lingkungan menjadi lebih baik yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana (tiga sumber kebahagiaan; hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan alam). Dengan demikian, mudah-mudahan tempat kita masing masing bisa menjadi percontohan bagi daerah lain, sebagai wujud yadnya, yakni melakukan suatu hal yang baik yang dicontoh orang lain. Karena untuk memulihkan keseimbangan alam, diperlukan partisipasi dan kepedulian semua pihak. Untuk tujuan tersebut Buku Bakti Bumi Pertiwi ini diterbitkan. Meski ancaman kelestarian bumi seperti yang disebutkan di atas menjadi bahasan penting, buku ini lebih berfokus pada masalah internal Bali yang sangat mendesak, yakni penanganan sampah yang benar dan perlunya menjadikan Bali sebagai daerah pertanian organik.
Pembaca yang budiman,
Zaman dahulu sering sebuah karya tidak menyebut nama-nama pengarang. Karena karya-karya tersebut dibuat sebagai persembahan, sebagai wujud terimakasih, sebagai ungkapan syukur atas karunia dan berkah yang telah diberikan oleh alam semesta, oleh Yang Maha Kuasa. Bisa juga karya tersebut sebagai persembahan kepada sang raja/ratu sebagai kepanjangan tangan yang di atas. Singkatnya sebuah karya dipersembahkan sebagai dharma.
Kenapa dinamakan Bakti Ibu Pertiwi? Yah, seperti pada awal paragraf di atas, inilah persembahan kepada ibu kita. Apa yang kita persembahkan kepada Ibu Pertiwi semestinya adalah apa yang kita persembahkan kepada ibu kita. Ibu Pertiwi, bumi ini, adalah ibu kita juga yang memberi kita makan untuk hidup.
Dan ibu kita tidak selalu sehat. Kadang demam, batuk-batuk, panas dingin, dan sebagainya. Apa yang kita lakukan jika ibu kita sakit, seperti itulah yang sedang kita lakukan lewat buku ini. Situasi dunia saat ini sangat mengancam kesehatan ibu pertiwi kita, dan semakin membahayakan dalam beberapa puluh tahun mendatang. Kalau kita tidak melakukan tindakan tepat dan cepat untuk mengurangi penyebab sakit, kita akan melihat ibu kita tercinta benar-benar sakit. Kita berharap bumi kita terjaga kelestariannya.
Sampah dari gunung turun ke kali dan terbawa ke laut, sebagian terperangkapr pada akar hutan bakau dan lumpur endapan lumpur sangat menyulitkan usaha pembersihan

Karena ini persembahan kepada ibu, kita tidak mau menghitung-hitung, mencantumkan nama-nama. Karena ibu kita telah memberikan sedemikian banyak kasih dan sayang sehingga kita tumbuh dan berkembang seperti sekarang.
Ungkapan syukur dan terima kasih bukan hanya dengan kata-kata manis penuh sunggingan senyum. Namun juga bisa diungkapkan dengan ajakan, dorongan dan terutama tanggung jawab berbuat sesuatu untuk menjaga dan mengembangkan apa yang sudah dikaruniakan agar lebih bermanfaat bagi sesama kehidupan dan alam semesta. Dengan semangat itu pula buku ini dibuat. 
Tapi, demi rasa dharma dan tanggung jawab juga, kami tidak hendak berpaling muka, tidak hendak melempar ide dan sembunyi tangan. Kami bersedia bekerjasama untuk memujudkan cita-cita dan tujuan darma dalam buku ini. Untuk itu bagi siapa yang tertarik dan tertantang untuk mewujudkan beberapa ide dalam buku ini, silahkan email ke alamat redaksi (bhaktiibupertiwi@gmail.com). Kami siap bekerja sama untuk Bali dan tentunya dunia yang lebih baik.
Kami tidak ingin menunjukkan diri. Karena memang tidak ada ‘diri’ dalam karya ini. Semua hasil kerja, perencanaan, kajian dan dharma ratusan orang. Kebetulanlah saja kami di bagian redaksi kebagian ‘tugas’ mengikat ide dan hasil kerja tersebut dalam tulisan. Jadi, sebenarnya buku ini juga hasil kerja-sama ratusan pihak, dari berbagai latar belakang berbeda. Praktisi, akademisi, tradisi, kelompok spiritual, pengamat, dan bahkan juga oposisi. Data-data yang terangkum dalam buku ini berdasarkan para ahli dan orang orang di lapangan, juga berdasarkan penelitian badan resmi dunia seperti PBB, universitas terkemuka. Jajaran para redaksi juga bukan orang-orang yang berada di balik meja dan duduk sepanjang waktu di depan komputer. Kami adalah kumpulan para pendaki gunung, penyelam, guide, pekerja hotel, wartawan, pemangku, pemilik bisnis, dan daftarnya masih panjang.
Beberapa tulisan dalam buku ini benar-benar ditulis di puncak gunung, di tepi pantai, di atas kapal menuju tempat penyelaman, di gubuk tengah sawah, di lereng bukit. Beberapa hasil corat-coret di sembarang kertas di berbagai tempat, dan disempurnakan di depan komputer. Jadi buku ini mengenai apa yang terjadi di lapangan, oleh orang-orang lapangan, atas petunjuk para ahli yang meneliti di lapangan maupun di laboratorium.Karena berdasarkan penelitian para ahli, badan resmi dunia, universitas-universitas terkemuka dan pemerintahan negara-negara, data-datanya sangat akurat. Tapi karena melibatkan penelitian para ahli, hasilnya seringkali cukup rumit untuk dimengerti. Untuk mempermudah pemahaman, beberapa analogi sederhana dipakai. Misalnya untuk mendeteksi gas rumah kaca, kita bisa membuat percobaan dengan air di panci yang dipanaskan. Untuk menyederhanakan pemanasan global, kita bisa belajar dari letusan gunung Tambora dan odometer mobil. Peran cacing bagi pertanian bisa kita andaikan para koki restoran atau ibu kita yang sibuk di dapur. Dan sebagainya dan sebagainya.
Dengan demikian, pesan pesan dalam buku ini dengan mudah bisa dipahami oleh kalangan luas, terutama adik-adik di bangku sekolah dasar. Karena kepada generasi muda tersebut kelestarian bumi ini kita titipkan.
Selamat membaca dan ayo bersama-sama berdharma.
Om shanti, shanti, shanti, Om!

Efek rumah kaca, apaan sih?


Apakah ibumu punya peralatan memasak dengan tutup terbuat dari kaca? Mungkin rice cooker, magic jar, panci ajaib, atau apalah namanya. Kalau ada, coba kamu adakan percobaan sederhana. Tuangkan dua gelas air dalam panci dan masak di atas tungku tanpa ditu- tup. Catat berapa lama air mencapai titik didih. Sudah selesai ? Sekarang kosongkan panci dan isi lagi dengan air dalam jumlah sama, dua gelas. Taruh di tungku dengan besar api sama, tapi sekarang dengan panci tertutup. Nah, sekarang ketahuan air mendidih dalam waktu yang relatif lebih cepat.

Apa logikanya? Lebih dari seratus tahun lalu ilmuwan yang tak pernah masuk sekolah asal Inggris, James Watt, menemukan fenomena yang sama: Panas yang tertutup rapat akan menggandakan panas itu sendiri dan menghasilkan energi berlipat. Ah, fenomena ini sebenarnya bukan temuan James Watt. Ibu James Watt dan ribuan ibu-ibu yang lain mengetahuinya. Untuk memasak lebih cepat diperlukan tutup panci, atau tutup kuali, wajan, dandangan, dan lainnya. Tapi kita berterima kasih pada James Watt karena beliau memikirkannya dan akhirnya berhasil mengembangkan temuan berikutnya dari fenomena panas dalam panci tertutup, yakni mesin uap.
Sekarang bayangkan bumi ini adalah panci raksasa dengan lautan dan danau sebagai airnya. Air pada panci raksasa tersebut terus menerus dipanaskan. Tungku pemanasnya bukan api kompor, tapi sinar matahari. Air yang dipanaskan menguap, dan siklus selanjutnya membentuk awan. Nah, awan ini tidak langsung lenyap ke ruang angkasa, tapi mengambang beberapa ratus atau ribu meter di atas bumi. Kita sering melihat pesawat lenyap ditelan awan, berarti saat itu posisi awan lebih rendah dari ketinggian pesawat. Posisi awan bisa sangat dekat dengan permukaan bumi, tapi juga bisa ribuan meter di atas permukaan laut. Kalian yang pernah naik pesawat atau mendaki gunung pasti tahu posisi awan kadang lebih rendah dari posisi kalian.
Nah kumpulan awan inilah yang menjadi penutup panci raksasa, bumi kita. Tidak heran ketika cuaca cerah dan langit biru, udara segar dan adem. Ketika awan tebal menutup bumi, udara menjadi panas dan gerah.
Seperti tutup panci, saat langit banyak awan, cuaca akan sangat panas, karena energi panas dari matahari yang semestinya dipantulkan bumi ke ruang angkasa terperangkap oleh tutup ‘panci raksasa’ tersebut.
Sederhananya, efek rumah kaca sebenarnya sering kita alami, yakni menjelang musim hujan. Pernah kamu merasa saat cuaca mendung udara panas menyengat, sumuk/ongkeb, kamu tidak bisa tidur karena terus berkeringat, padahal baru saja mandi? Ini sebenarnya juga efek rumah kaca. Uap air menumpuk di langit, panas sinar matahari yang diterima bumi dan dipantulkan ke ruang angkasa tertahan oleh lapisan mendung, dipantulkan balik ke bumi. Akibatnya bumi menjadi gerah.
Tetapi, uap air cepat sekali berubah. Karena suhu di ketinggian yang dingin, awan cepat menjadi embun dan jatuh sebagai air hujan. Dengan hujan udara segera menjadi dingin. Jadi hanya dalam hitungan jam atau hari, uap air dalam bentuk awan bisa segera berubah menjadi air hujan.
Nah, sekarang kita beranjak membahas gas rumah kaca. Kalau awan dari uap air segera berubah menjadi hujan, tidak demikian halnya dengan ‘awan’ dari gas dari gas lain, seperti karbon dioksida atau mudah kita sebut CO2 dari asap kendaraan bermotor, tungku pabrik dan pembakaran sampah bertahan dilangit puluhan hingga ratusan tahun, sebelum bisa dikonversi berubah wujud, sehingga menjadi ‘tutup panci’ abadi. Akibatnya semakin lama bumi semakin panas.
Seperti percobaan di atas, tutup panci fungsinya memantulkan panas yang dilepaskan oleh air, sehingga panas di dalam panci berlipat. Kalau panas dilepaskan ke udara, air akan mendidih dalam waktu yang relatif lama, karena sumber panas murni dari api kompor. Dengan ditutup, energi yang semestinya lepas ke udara dipantulkan balik ke panci, hasilnya mempercepat proses pemanasan.
Hutan mangrove sebagai paru-paru bumi terancam oleh tumbukan sampah dari aliran sungai - Tampak seorang anak di antara para voluneter dalam kampanye kebersihan hutan mangrove

KENAPA DISEBUT EFEK RUMAH KACA?

Di negara-negara dingin Eropa, Amerika Utara dan Jepang, masyarakat justru sengaja membuat rumah kaca, agar udara menjadi hangat.Yang ini benar-benar rumah dari kaca. Dinding dan atapnya dari kaca bening. Kita bisa melihat apapun yang ada di dalam. Mirip aquarium raksasa atau planetarium.
Gunanya? Justru untuk menangkap panas matahari di siang hari dan mempertahankan panas tersebut agar tetap bertahan hingga beberapa hari berikutnya, meski dimusim dingin yang memang sangat dingin. Memang pada saat musim dingin, suhu daratan di belahan bumi dekat kutub bisa turun hingga beberapa puluh derajat Celcius dibawah titik beku. Tanaman akan mati karena suhu yang ekstrim. Nah, dengan rumah kaca, suhu menjadi lebih hangat dan berbagai tanaman seperti tomat, kentang, wortel bisa bertahan hidup. Penduduk pun tidak kelaparan.
Nah, karena rumah kaca membuat ‘penghuninya’ merasa hangat, istilah efek rumah kaca ini akhirnya dipakai untuk menggambarkan fenomena yang hampir sama yang terjadi dimuka bumi.
Gas-gas yang dimaksud termasuk karbon dioksida dari asap kendaraan bermotor , cerobong pabrik atau pembakaran sampah dan bahkan api dari kompor di dapur, juga pemakaian gas pendingin CFC pada kulkas, AC, atau gas bertekanan tinggi pada alat-alat penyemprot seperti parfum atau obat nyamuk, serta gas panas metana dari kotoran hewan dan manusia. Semua gas tersebut begitu lepas ke atmosfir akan membentuk payung raksasa yang membuat bumi semakin panas, seperti tutup panci.
Sebenarnya uap air, sebagaimana percobaan di atas, adalah gas rumah kaca juga. Tapi karena fenomena alami dan sifatnya yang cepat berubah menjadi hujan, uap air bukanlah ancaman bumi. Justru karena siklus uap air inilah bumi menjadi basah, segar dan hijau oleh kumpulan air hujan yang menjadi danau, mata air dan aliran sungai, juga mengisi sumur-sumur.
Sebenarnya gas rumah kaca seperti CO2 juga berfungsi baik bagi alam. CO2 diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan untuk proses fotosintesis, disimpan dalam bentuk akar, batang, daun dan buah. Sayur bayam, ubi, kentang, biji padi, buah papaya, pisang dan sebagainya adalah kumpulan zat karbon yang dikumpulkan oleh tanaman dari gas CO2 yang bertebaran diudara. Ini proses alami yang terjadi terus-menerus selama milyaran tahun semenjak makhluk hidup di bumi mulai terbentuk.
Masalahnya, dunia modern dengan industri yang semakin maju membawa dampak yang melebihi daya dukung bumi. Manusia, lewat industriaslisasi, membuat produksi karbon dioksida berlipat ganda. Pada saat yang sama, bukannya menambah jumlah pohon untuk menyerap CO2, manusia justru membabat hutan baik untuk pemukiman atau pembukaan ladang. Lebih buruk lagi, demi tercapai tujuan pembebasan lahan yang lebih cepat, mereka bukan menebang, tapi membakar hutan.
Fenomena yang sama juga terjadi pada komunitas petani. Agar segera bisa menanam padi dan mengejar uang, para petani bukannya menimbun sisa-sisa batang padi, tapi membakarnya. Mereka bilang kalau harus dikumpulkan dan membiarkan membusuk secara alami menjadi pupuk, ini memerlukan waktu yang cukup lama dan perlu banyak tenaga yang berarti juga ekstra biaya.
Kembali lagi sifat keserakahan manusia yang menjadi akar penyebab pemanasan bumi.

AYO BIKIN PERCOBAAN LAGI

Dengan tutup dari kaca, teman-teman bisa melihat dengan mata telanjang fenomena yang terjadi dalam panci. Kita jadi semakin mudah memahami apa itu panas bumi. Untuk lebih mendalami apa itu efek rumah kaca dan panas bumi, ayo sekarang kita adakan percobaan lagi. Bawa panci berisi sedikit air ke halaman rumah saat matahari terik. Oh, jangan lupa tutup pancinya.
Perhatikan, hanya dalam beberapa menit, kalian semua segera tahu uap air menempel di permukaan tutup panci, kaca menjadi buram. Seperti itulah gambaran gas rumah kaca, lapisan mirip awan ini meneruskan panas matahari ke bumi, tetapi sekaligus memantulkan panas dari bumi, membuat suhu semakin panas.
Untuk membuktikan, kamu bisa meletakkan thermometer di dalam dan diluar panci. Meski sama-sama terkena sinar matahari, tapi thermometer yang di dalam panci menunjukkan angka yang lebih tinggi. Karena tutup panci membuat panas berlebih. Teman-teman pasti tidak ingin berada didalam panci tertutup seperti itu kan? Jadi seperti itulah kondisi bumi jika gas rumah kaca semakin menumpuk, kita seperti berada di bawah penutup panci raksasa. Panas matahari tembus, dan efek panasnya tidak bisa lepas ke angkasa, tapi terperangkap di bawahnya.
ILUSTRASI : Rumah kaca membuat bumi semakin panas karena sinar matahari terperangkap payung raksasa di atmosfere.

Pengertian Tentang Sampah


Apa itu sampah ?


Dulu, kebanyakan orang mengartikan sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Sebenarnya sampah mempunyai nilai ekonomis jika ditangani dengan baik, di mana harus dimulai dengan pemilahan sampah.

Jenis - Jenis Sampah


Sampah Organik


Sampah yang berasal dari mahluk hidup yang MUDAH DIURAI serta diubah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari air dan tanah.






Contoh sampah organik


Sampah Non-Organik


Sampah yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, seperti mineral dan minyak bumi yang TIDAK MUDAH TERURAI dengan tanah.

Contoh : plastik, besi, logam, kaleng, karet, kaca, gelas.






Contoh sampah non-organik 


B3 (bahan beracun dan berbahaya)

(B3) adalah sisa suatu usaha dan kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat, konsentrasi, dan jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan atau merusak dan membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya (PP No. 18 tahun 1999 jo PP No. 85 tahun 1999).



 

 Contoh sampah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya


Penanganan Sampah Saat Ini :
  • Dibakar
  • Ditanam / ditimbun
  • Dibuang ke sungai
  • Diambil oleh petugas sampah
Semua penanganan sampah diatas selama ini mempunyai berbagai dampak Negatif
 

Akibat Pembakaran Sampah Non Organik (terutama plastik)

 Menghasilkan dioksin yaitu senyawa berbahaya yang apabila dihirup manusia dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem syaraf dan depresi.

http://semaloi.blogspot.com/2009/11/semaloi-kampungku.html
m.okezone.comdetik.com/readfoto/http://www.oceantrustfilm.org

Akibat Pembuangan Sampah ke Sungai
  • Sampah plastik yang tidak terurai menyumbat saluran air di daerah perkotaan dan perumahan
    .
  • Sampah plastiksering terbawa ke daerah persawahan, menyumbat saluran irigasi yang akhirnya dikumpulkan dan dibakar oleh para petani, ini menambah penyebaran racun dioksin di udara.
  • Banjir di musim hujan. Foto di bawah ini adalah banjir di daerah Kuta dan Denpasar yang merupakan daerah dataran rendah di Bali. Banjir di dataran rendah yang salah satu diakibatkan karena kiriman sampah dari daerah yang lebih tinggi.
  • Arus laut dan angin membawa sampah plastik menumpuk di lautan terbuka dan di bawah laut.
  • Sampah plastik akan mencemari laut dan dimakan oleh binatang laut yang dapat berakibat pada keracunan dan kematian. Hasil laut pun tidak aman untuk dikonsumsi manusia.



Akibat Menimbun/Menanam Sampah Non Organik
  • Plastik memerlukan waktu 200-1000 tahun untuk terurai.
  • Jika ditanam di dalam tanah, plastik mengalami pemanasan dan mengeluarkan dioksin (racun yang berbahaya) yang merembes ke dalam tanah, mencemari tanah serta sumber air.
Akibat pembuangan sampah yang dilakukan oleh petugas sampah namun tidak dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) resmi.
  • Tidak adanya fasilitas dan penanganan sampah yang benar di TPA yang tidak resmi mengakibatkan pencemaran lingkungan di sekitar TPA tersebut seperti pencemaran udara (bau busuk), pencemaran air dan tanah.
  • Misal satu lapangan sepak bola bisa menampung 400 truk, dalam satu hari untuk sampah disebuah desa wisata diangkut oleh minimal 3 truk sampah. Berapa lapangan sepak bola yang diperlukan untuk menampung sampah desa tersebut dalam 5 tahun?
Hitungan kasarnya, 3 X 365 X 5. Kita ambil contoh angka 5000 truk dalam 5 tahun, itu sama artinya dengan 12,5 lapangan bola untuk penampungan sampah


Foto dibawah adalah contoh TPA yang tidak resmi.

TPA yang tidak resmi ada dibeberapa lokasi yang merusak pemandangan Bali sebagai tujuan pariwisata serta pencemaran lingkungan, sebagai tempat pembuangan sampah tidak resmi dari desa dan masyarakat disekitarnya.
Hitungan kasarnya, 3 X 365 X 5.
Kita ambil contoh angka 5000 truk dalam 5 tahun, itu sama artinya dengan 12,5 lapangan bola untuk penampungan sampah

Apa Yang Bisa Kita Lakukan Untuk Melestarikan Alam

 Stop membakar sampah.
  • Stop membuang sampah ke sungai.
  • Stop membuang sampah sembarangan (karena pada musim hujan sampah akan terbawa ke got & sungai).
  • Stop mengubur sampah plastik.
  • Melakukan pemilahan sampah, sehingga sampah produk plastik bisa dikumpulkan dan dijual.
  • Manfaatkan sampah organik menjadi pupuk organik / kompos untuk keperluan kebun sendiri.
  • Menanam pohon karena pohon menyerap karbondioksida yang dapat mengurangi efek pemanasan global. Pohon juga merupakan PABRIK oksigen bagi seluruh mahluk hidup.
  • Mengkonsumsi pangan organik (Bahan pangan yang dihasilkan dari pertanian / perkebunan yang tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia). Sehingga petani terdorong untuk melakukan pertanian & perkebunan organik yang ramah lingkungan, mengingat pestisida kimia yang digunakan oleh petani akan mencemari air dan tanah. Sedangkan residu/sisa pestisida yang terdapat dalam tanaman dan kemudian dikonsumsi oleh masyarakat dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, salah satunya kanker. Bahkan menurut penelitian para ahli, ASI (Air Susu Ibu) juga sudah tercemar pestisida. Dengan mengkonsumsi bahan organik masyarakat juga dapat terhindar dari kekurangan nutrisi tersembunyi. mengingat pupuk organik bersumber dari berbagai dedaunan atau bahan organik lain yang mengandung berbagai macam unsur dan kemudian diurai dalam proses pembuatan pupuk organik, dimana semua unsur tersebut tidak dapat diberikan secara lengkap oleh pupuk non organik (Pupuk Kimia).
  • Menggunakan energi secara efisien contoh: mematikan lampu,TV apabila tidak digunakan, menggunakan bola lampu hemat energi, menggunakan sepeda/jalan kaki untuk tujuan yang dekat, menggunakan mobil bersama-sama ke tujuan yang sama. Mengingat listrik banyak dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga diesel atau batu bara yang menghasilkan karbondioksida dalam operasinya dan semakin banyak mobil atau motor yang bergerak berarti semakin banyak gas karbondioksida yang dilepaskan ke udara yang akkan memperparah pemanasan global.
  • Lakukan 3 ‘R’ pada sampah plastik - Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang)

Gerakan 3R

REDUCE = mengurangi penggunaan plastik atau bahan yang didapat dengan menebang pohon.
  • Bawa tas dari rumah jika akan belanja.
  • Pakai sapu tangan dari pada tissue (Boros tissue = Pohon habis untuk bahan baku)
  • Lebih baik mengisi ulang botol air minum daripada membeli yang baru.
  • Gunakan daun untuk membungkus makanan sebagai pengganti kertas minyak/styrofoam/plastik.
REUSE = memakai kembali
  • Usahakan menggunakan kertas bolak-balik (menulis pada kedua sisi kertas). Bahan baku kertas adalah pohon, dengan cara memakai kembali kertas maka mengurangi jumlah pohon yang harus ditebang.
  • Kalau harus menggunakan tas kresek, simpanlah agar dapat digunakan kembali.
  • Bekas botol bisa dipakai tempat pensil.
  • Kaleng susu bisa dipakai pot bunga.
RECYCLE = daur ulang
  • Gelas plastik bisa dipakai kap lampu.
  • Bungkus plastik bisa diubah menjadi tas, dompet.
  • Membuat kompos dari sampah sisa makanan atau daun untuk tanaman.

Contoh Barang Recycle dari Plastik






Contoh berkebun di lahan yang terbatas



  

Siklus Unsur Hara di Alam

Di alam, tanaman  menyerap  unsur hara dari tanah  (Ibu Pertiwi) lewat akar untuk tumbuh dan berkembang.Tanaman  mengolah unsur hara un- tuk menjadi senyawa yang lebih kompleks   dalam   bentuk   vitamin, gula, protein yang tersimpan dalam daun maupun  buah yang kemudian dikonsumsi oleh manusia dan binatang.

Daun  yang jatuh di tanah,  kotoran dan jasad hewan serta manusia ke- mudian diurai oleh mikro-organisme di tanah kembali menjadi unsur hara yang diperlukan oleh tanaman.

Terjadi perpindahan unsur hara dan juga dalam bentuk senyawa vitamin, lemak, protein, gula, dll dari tanaman ke hewan ke manusia yang kemudian kembali ke tanah.

Apa itu Unsur Hara?


Unsur yang diperlukan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang.
Contoh:   unsur   P  (Phosphor), unsur K (Kalium), S (Sulphur / Belerang), Mg (Magnesium), Ca (Calsium), unsur Mo (Molibde- num), Fe (Besi), Cu (Tembaga), Zn (Seng), B (Boron), Cl (Chlor) dan Mn (Mangan)
Tubuh manusia memerlukan se- mua unsur di atas namun tubuh manusia tidak dapat langsung mengambil unsur tersebut dari tanah melainkan lewat tanaman atau setelah diproses oleh tana- man  atau hewan dalam bentuk vitamin, mineral, serat, protein,lemak.
Jadi sangat penting mengkonsumsi pangan yang ditumbuh kembangkan di tanah yang kaya akan unsur-unsur tersebut di atas. Sehingga tubuh bisa terhindar dari kekurangan nutrisi tersembunyi.

Mengingat tubuh manusia memerlukan 14(empat belas) unsur agar dapat tumbuh dan berkem- bang dengan baik. Yang dimak- sud dengan kekurangan nutrisi tersembunyi adalah seseorang yang tidak mendapat cukup un- sur-unsur  yang diperlukan  oleh tubuh karena bahan makanan yang dikonsumsi  tidak  menda- pat unsur tersebut dari tanah di- mana tanaman tersebut ditanam.
 

Membakar = Memutus Siklus Alam


Membakar sampah organik berarti memutus siklus alam. Dimana unsur yang terkandung  di dalam sampah organik tersebut  hilang tidak kem- bali ke tanah. 
Sehingga menyebab- kan tanah menjadi miskin unsur hara (tidak subur) dan tergantung pada penggunaan pupuk buatan yang apa- bila digunakan berlebihan justru ber- dampak pada kerusakan pada tanah.

Apa itu Mikro-organisme?


Kelompok mahluk hidup yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata langsung yang ber- fungsi untuk:

  • menguraikan bahan organik di dalam tanah,
  • menyediakan unsur hara,
  • membantu penyerapan unsur hara bagi tanaman,
  • merangsang pertumbuhan tana- man,
  • pengontrol alami pertumbuhan mikroba yang berbahaya.

Mikro-organisme dan Kesuburan Tanah

1 gram tanah subur mengandung 100 juta mikroorganisme Contoh: jenis bakteri, jenis algae, jenis protozoa, jenis jamur.




Apa itu Pemanasan Global?

  • MENINGKATNYA SUHU RATA_RATA di permukaan bumi, yang diakibatkan oleh gas-gas rumah kaca terlalu berlebihan dan berkurangnya jumlah pohon di bumi yang berfungsi untuk menyerap karbondioksida.
  • Contoh gas-gas rumah kaca : karbondioksida, gas metan, gas CFC, NO2, dll)
  • Gas-gas rumah kaca dihasilkan dari aktifitas manusia seperti membakar sampah, pembakaran hutan, asap kendaraan bermotor, penggunaan AC, asap pabrik dan penggunaan pupuk kimia.

Dampak Pemanasan Global


  • Cuaca ekstrim di mana pada musim panas suhu udara menjadi sangat panas sehingga dapat menimbulkan kebakaran hutan. Dan pada saat musim dingin suhu udara pun menjadi lebih dingin.
  • Karena suhu yang tinggi maka terjadi penguapan air laut dan air di daratan menjadi lebih besar, sehingga di daerah curah hujan tinggi menjadi semakin tinggi sehingga menyebabkan bencana banjir.
  • Terjadi pergeseran musim sehingga di daerah yang curah hujannya rendah semakin jarang turun hujan sehingga menyebabkan kekeringan dan gagal panen.
  • Mencairnya es di Kutub Utara dan Selatan, naiknya permukaan air laut yang sudah menenggelamkan beberapa pulau.

Bumi Yang Hijau Bersih Dan Lestari

Dalam wacana Bumi yang hijau, bersih dan lestari, masyarakat dihimbau untuk lebih rajin menanam pepohonan, bunga atau tanaman sayuran di sekitar rumah. Dengan makin banyaknya pepohonan dan tanaman sayuran, rumah tangga akan makin paham pentingnya penggunaan sampah untuk pupuk kompos. Tanaman ini selain membuat indah pemandangan, juga menjadi sumber sayur mayur rumah tangga, sehingga tercipta keluarga yang sehat dan mandiri, tercukupi kebutuhan sayuran yang sehat karena tersedianya pupuk organik (bukan kimia) hasil dari rumah tangga sendiri. Dan yang paling penting untuk situasi sekarang adalah dengan menanam pohon berarti masyarakat telah ikut berpartisipasi menyelamatkan bumi dari dampak pemanasan global, mengingat pepohonan akan membantu menyerap karbondioksida, sebagai salah satu gas penyebab pemanasan global, yang dihasilkan dari berbagai aktifitas manusia seperti transpostasi , pabrik, pembangkit listrik dan sebagainya. Pepohonan yang rindang dapat berfungsi sebagai AC alami karena dapat menurunkan suhu udara disekitarnya, disamping akarnya dapat menyerap air hujan sehingga membantu kita terhindar dari banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.
 
Tradisi menanam, menggunakan pupuk alami, dan memelihara keseimbangan alam bukan hal baru dalam tradisi Hindu Bali. Hal ini bisa dilihat dalam beberapa praktek di masyarakat, yang masih kita biasa lihat sampai sekarang misalnya:
  1. Pengantin baru biasanya diwajibkan menanam tunas kelapa yang merupakan bagian dari upacara perkawinan.
  2. Di desa Tenganan Pegringsingan di Karangasem warga desa harus mendapatkan ijin untuk menebang pohon dan bahkan setiap orang yang memotong pohon di wajibkan menanam satu pohon sebagai pengganti.
  3. Di Pura Besi Kalung, Tabanan, yang daerahnya selalu selalu tampak hijau dan asri , masyarakat pengemong pura memegang tradisi memendem/mengubur (tidak diperbolehkan membakar) dedaunan disekitar pura karena pepohonan disekitar pura tersebut dianggap sebagai wujud rambut Tuhan, atau dalam istilah setempat disebut rambut Ida. Hal ini sejalan dengan ajaran dalam sastra Hindu, bahwa alam semesta adalah Tuhan itu sendiri, Sarwam Kalu Idam Brahman.
  4. Di Subak Selat, Desa Buahan, Payangan, petani tidak menggunakan pestisida, karena mereka memegang pesan leluhur agar manusia tidak membunuh kecuali untuk dimakan. Semua makhluk yang berada di wilayah subak berhak hidup dan memiliki peran saling melengkapi dalam keharmonisan dan keseimbangan alam. Penggunaan pestisida kimia tidak hanya membunuh hama, namun juga binatang lain yang ada di habitat persawahan. Maka tidak heran sekarang semakin sulit menemukan binatang seperti blauk ( anak Capung), jubel, nyalian (ikan), kakul (Siput) belalang, jengkerik, cacing tanah, dan sebagainya.

Petunjuk Pengolahan Kompos


Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
Petunjuk membuat kompos dengan menggunakan lubang kompos
  • Gali lubang di tempat yang tidak terpapar matahari langsung dengan ukuran satu meter kubik
  • Isi lubang dengan sampah organik
  • Taburkan tanah secara berkala untuk menghindari bau
  • Kalau sudah penuh tutup dengan tanah
  • Gali satu lubang lagi untuk diisi sampah organik dan pada saat lubang yang kedua ini penuh, sampah organik di lubang yang pertama (setelah 3 sampai 6 bulan) sudah menjadi kompos dan siap diambil untuk digunakan memupuk tanaman.
  • Setelah kompos diambil dari lubang pertama, lubang ini siap untuk diisi kembali dengan sampah organik
Cara pembuatan kompos di atas sangat sederhana dan sepenuhnya bergantung pada biota dalam tanah termasuk mikro-organisme, cacing tanah dan lain-lain untuk melakukan penguraian bahan-bahan organik menjadi unsur hara yang diperlukan oleh tanaman.
Untuk mempercepat proses pengomposan bisa dilakukan dengan melakukan pengontrolan beberapa faktor yakni :
  • Memperkecil ukuran sampah organik agar lebih cepat diurai dalam lubang oleh mikro-organisme
  • Membuat bahan organik dalam keadaan lembab sehingga mikro organisme cepat berkembang sebagai mahluk pengurai dan bekerja dengan cepat. Ini dapat dilakukan dengan menyiram lubang secara berkala (menyiram dengan air cucian beras akan lebih bagus)
  • Memberikan sirkulasi udara pada lubang agar bakteri yang berkembang dalam mengurai sampah adalah bakteri aerob (bakteri yang hidup memerlukan oksigen) dan proses penguraian tidak menghasilkan bau busuk . Ini dapat dilakukan dengan memasukan dahan dan ranting di antara sampah sehingga terdapat rongga pertukaran udara. Memasukkan bambu yang sudah dilubangi juga bisa sebagai alternatif.
  • Menambah jumlah bakteri dalam lubang dengan menambahkan bakteri dari luar (dipasaran sekarang banyak bakteri pengurai yang dijual seperti EM, singkatan dari Effective Microorganism) . Perhatikan cara penggunaannya sesuaikan dengan petunjuk yang biasanya ada pada botol kemasannya.
  • Campurkan sampah daun yang berwarna hijau yang banyak mengandung unsur nitrogen seperti guntingan rumput dan sampah yang mengandung karbon seperti sampah daun tua yang berwarna coklat dengan perbandingan 1:30
Lubang Kompos
Kompos yang sudah ditutup tanah

Kompos yang sudah diangkat dari lubang.
Contoh kompos yang sudah jadi

Catatan:
Kalau lahan terbatas sehinga tidak memungkinan membuat lubang dengan ukuran 1 kubik maka kompos dapat dibuat dalam karung dengan memasukan sampah organik yang berasal dari daun daunan dipekarangan kedalam karung dengan sebelumnya menyeprotkan bakteri (bioactivator propuri) secara merata dan akan lebih bagus kalau ukuran sampah diperkecil.

Atau dengan alternatif lain :


MEMBUAT SUMUR BIOPORI (Resapan)

  1. Gali lubang bentuk silinder, di- ameter 10 – 30 cm, kedalaman80 – 100 cm (boleh kurang jika muka air tanah dangkal)
  2. Jarak  antara  lubang yang satu dengan yang lain 50 – 100 cm
  3. Isi lubang dengan sampah or- ganik (sampah dapur, daun, rumput). Tambah terus sampah organik jika isi lubang berkurang akibat pembusukan
  4. Perkuat mulut lubang dengan memasukkan paralon (10 cm) dan pinggir mulut lubang dise- men agar tidak longsor.


Sumur biopori, cara mudah untuk :

•Mengatasi banjir karena meningkatkan daya resapan air
•Menyuburkan tanah
•Mengatasi masalah timbulnya genangan air penyebab demam berdarah dan malaria



Petunjuk Pembuatan Kompos Cair menggunakan tong kompos.

  • Pisahkan Sampah Non Organik dan Organik
  • Rajang / Cincang Sampah Organik hingga ukuran kecil 1 sampai 2 cm.
  • Semprotkan cairan Bioaktivator seperti PROPURI tepat mengenai sampahnya sambil diaduk agar merata.
  • Masukkan rajangan sampah organik kedalam drum komposter. Pengisian sampah pada komposter bisa setiap saat dan berulang-ulang dalam sehari.
  • Tutuplah komposter dengan rapat.

  • Pada awal pemakaian, komposter baru bisa menghasilkan kompos cair (Lindi) minimum 2 minggu, setelah itu bisa diambil setiap hari.
Cara Penggunaan PROPURI :
  1. Isi sprayer dengan air sumur. Apabila ingin memakai air PAM, air tersebut harus diendapkan dulu selama 24 jam agar kaporitnya menguap.
  2. Tambahkan PROPURI kedalam Sprayer dengan perbandingan 1 liter air ditambah 1 atau 2 tutup PROPURI.
  3. Kocok-kocok sprayer sampai merata.
  4. Cairan siap untuk disemprotkan.
Jenis-jenis Sampah Organik misalnya sisa makanan, sayuran, buah, dedaunan, tulang ikan, kulit udang, nasi, kulit pisang, dan sebagainya.


Tips :
  • Dianjurkan setelah dipotong-potong terus disemprotkan dengan PROPURI yang telah dicampur air hingga merata, kemudian baru dimasukkan kedalam tong komposter.
  • Oleskan sabun colek / Vaselin atau Gemuk pada bagian atas komposter untuk mencegah belatung naik kepermukaan komposter.
  • Untuk menghilangkan belatung, pipa ventilasi kiri-kanan ditutup rapat dengan plastik dan diikat dengan karet. Biarkan +/- 2 hari. Untuk menghilangkan ulat hitam yang membandel, siram dengan air panas kemudian semprotkan PROPURI kembali kedalam tong.
  • Letakan komposter pada tempat yang teduh, jangan diletakkan dibawah terik matahari.
  • Jika ada bau yang menyengat didalam komposter, semprotkan segera cairan bioaktivator (PROPURI).
  • Jika air lindi-nya bau, campurkan air 1 : 5 ( 1 botol Lindi dicampur dengan 5 botol air) kemudian di dalam botolnya ditambah kapur sirih 1 sendok makan dicairkan dengan air sedikit lalu dituangkan ke dalam botol lindi. Lindi akan menjadi agak jernih dan baunya hilang.

Petunjuk Penggunaan Kompos Cair (Lindi).

  •  Keluarkan Lindi melalui kran komposter.
  • Tampung didalam botol / wadah dan tambahkan 1(satu) tutup PROPURI untuk mengurangi bau.
  • Lindi didiamkan / disimpan selama 2 (dua) hari
  • Untuk Penggunaan, campurkan Lindi dan air dengan perbandingan 1 : 5 ( 1 liter lindi dicampur 5 liter air )
  • Siram tanaman dengan air yang telah dicampur dengan Lindi



http://asagenerasiku.blogspot.com
  
Catatan :
Belatung / Ulat yang ada dalam tong kompos adalah larva dari lalat atau serangga yang telah bertelur di sisa makanan atau bahan organik lain sebelum dimasukan ke dalam tong kompos dan selanjutnya telur lalat meneruskan evolusi menjadi belatung sebelum menjadi pupa dan kemudian menjadi lalat. Dengan terisolasi dalam tong berarti populasi lalat di sekitar rumah juga akan berkurang bahkan tidak ada.

Menunggu Reinkarnasi Dang Hyang Nirartha





Lima ratus tahun lalu Ida Pedanda Wawu Rauh, lebih dikenal sebagai Dang Hyang Nirartha, meluruk perjalanan panjang dari kerajaan Kediri melewati reruntuhan Majapahit menuju Bali. Misi utama: Melindungi Bali dari ancaman pengaruh asing.
 
Dang Hyang Nirartha mempelajari keruntuhan Majapahit dimulai dari daerah-daerah pesisir yang dikuasai pedagang India dan Arab. Jadi Hindu tersingkir tidak serta merta karena masuknya agama baru kerajaan yang dianut oleh seluruh anggota masyarakat, dan tiba-tiba diadopsi oleh Raden Patah dan segera sang raja memindahkan pusat kerajaan ke Demak. Runtuhnya Majapahit sebagai kekaisaran Hindu dimulai dari daerah pinggiran pantai. Dimana komunitas pedagang yang mandiri dan lepas kari kekuasaan kerajaan mulai menancapkan pengaruhnya. Pusat kekuasaan kerajaan menjadi ompong karena titik terluar mulai keropos digembosi pengaruh asing.
Belajar dari pengalaman Majapahit, sang pedanda membawa misi khusus ke Bali: mendirikan benteng di seluruh pinggir pantai Bali, agar pulau ini kebal dari pengaruh asing. Benteng yang dimaksud Dang Hyang bukan benteng fisik seperti buatan Belanda atau Jepang atau kekuatan militer lain. Benteng tersebut lebih bersifat niskala, diwujudkan dalam bentuk pura.
Lima ratus tahun lalu membuat pura besar di pinggir pantai tidaklah umum dan kurang mendapat dukungan kerajaan setempat. Pura besar setingkat sad kahyangan atau kahyangan jagad biasanya di puncak atau setidaknya di lereng gunung. Tetapi Dang Hyang Nirartha punya argumen dan thesis berbeda. Kalau tidak dibentengi pura, nasib Bali akan sama dengan Jawa, Sumatra, Kalimantan dan hampir semua bekas kerajaan Majapahit lainnya.
Argumen ini, berikut bukti kejatuhan Mahapahit, tampaknya cukup membuat penguasa dan masyarakat Bali mengerti. Karena banyak dari mereka juga adalah pelarian dari kerajaan Jawa Timur ini. Sembilan pura sad kahyangan tegak berdiri. Dimulai dari Perancak, kemudian ke Pulaki, balik lagi ke Rambut Siwi, terus memutar ke Tanah Lot, Uluwatu, Serangan, Dalem Peed di Nusa Penida, Goa Lawah dan Ponjok Batu. Meski perhatian utama Nirartha pada pura-pura tepi pantai sebagai benteng spiritual Bali, beliau sebenarnya juga sangat perhatian pada pura-pura di daerah pedalaman. Di mata Dang Hyang, pura-pura inilah, selain tempat ibadah, juga sebagai benteng kekuatan Hindu.
Visi Dang Hyang Nirartha benar adanya. Meski diapit pulau-pulau yang penduduknya mempunyai keyakinan berbeda, Bali kokoh tegak sebagai kerajaan Hindu. Bahkan pada beberapa dekade kerajaan Hindu Bali menguasai Lombok Barat dan sebagian Jawa Timur. Keberadaan masyarakat Hindu di Lombok Barat adalah bukti kekuasaan Bali.
Namum akhir-akhir ini sepertinya pura-pura di Bali justru mendapat gempuran dari dalam, dari orang Bali sendiri. Kawasan pura memang bersih, tapi sudah jamak area disekelilingnya penuh dengan sampah plastik. Dari satu sisi, komersialisasi pura menjadi objek wisata telah membawa dampak serius terutama dalam penanganan sampah. Dari sisi lain, sifat konsumerisme masyarakat Bali perlahan mengubah cara pandang mereka atas persembahan. persembahan hanya berupa hasil panen, buah-buahan, padi, hasil kebun dan sawah, atau olahan dan masakan dapur berupa makanan dan jajanan pasar. Kini yang termasuk persembahan, diluar buah-buahan dan hasil olahan dapur dan jajanan pasar adalah hasil industri modern seperti permen, minuman ringan dalam kaleng/botol, biskuit, roti, susu kotak,coklat batangan. Yah, daftarnya sangat panjang.
Bisakah suatu saat lingkungan pura-pura di Bali terbebas dari sampah plastik yang mengganggu? Tentunya bisa, jika kita menyadari Tuhan tidak menghendaki sesajen yang berakibat samping, mengotori rumah Tuhan dan dalam jangka panjang meracuni manusia serta makhluk hidup disekelilingnya. Bisa seandainya kita menyadari tiap tahun ada para relawan sampah plastik mengumpulkan berton-ton sampah plastik yang dibuang sembarangan dikawasan pura, terutama pura-pura yang berada dikawasan pegunungan.
Tidak ada tersebut dalam lontar atau buku suci Hindu yang lain bahwa Bali sebaiknya mendirikan pura-pura di pinggiran pantai agar terlindung dari pengaruh asing. Mendirikan pura di pinggir pantai adalah hasil komunikasi Dang Hyang Nirartha dengan Hyang Widhi Wasa.
Hal yang hampir sama: tidak ada lontar atau buku suci Hindu yang melarang persembahan kepada Tuhan berbungkus plastik. Industri plastik baru lahir beberapa dekade lalu seiring ditemukannya ladang minyak. Jadi kalau ada ajakan atau petunjuk untuk tidak menggunakan sesajen yang berbungkus plastik, petunjuk tersebut tidak harus ada didalam lontar atau sastra suci hindu lainnya terlebih dahulu.
Sudah ada pedanda atau pemangku yang menghimbau perlunya menjauhkan persembahan ataupun aksesori upacara dari plastik. Kita pernah mendengar orang yang disucikan menolak melanjutkan upacara atau perjalanan menuju pura karena ada aksesoris plastik melintang dan menghadang. Ini petunjuk awal bahwa plastik seharusnya jauh dari bagian upacara. 
Kita menunggu kehadiran, atau lebih tepatnya reinkarnasi, spirit Dang Hyang Niratha di masa kini, yang memiliki visi jauh ke depan. Dang Hyang Nirartha membangun pura-pura yang melindungi Bali selama ratusan dan mungkin ribuan tahun ke depan. Sang Dang Hyang baru diharapkan memiliki visi menjaga pura-pura Bali dari aliran sampah plastik baik hasil komersialisasi maupun persembahan.
Seperti kokohnya pura yang bertahan ratusan tahun, sampah plastik, dari sisi yang berlawanan, juga tidak hancur dalam ratusan tahun.
Bagaimana memulai dari diri kita, dalam kehidupan sehari-hari? Silahkan jauhkan persembahan dari berbagai aneka makanan berbungkus plastik. Plastik tidak hancur dalam ratusan tahun. Pun kalau bisa hancur sendiri atau dimusnahkan dengan api, residu dan asap dari pembakaran plastik sangat berbahaya bagi kesehatan. Mengotori udara, tanah pertanian, dan larut menuju sumber-sumber mata air yang kita konsumsi.
Di negera-negara maju, ada peraturan ketat agar sampah plastik hanya bisa didaur ulang menggunakan mesin pemanas berkemampuan ribuan derajat Celcius dan berkompresi tinggi. Ini menghindari residu terbuang ke udara bebas. Residu berupa toxin(racun) yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia dan makhluk hidup lainnya.
Hal kedua yang bisa dilakukan adalah mempertimbangkan kembali dalam menggunakan persembahan dari makanan industri. Banyak makanan hasil olahan pabrik, selain berbungkus plastik, kaleng atau kaca, mengandung pemanis, perasa, pewarna dan pengawet buatan(kimia). Bahan-bahan buatan tersebut adalah berbahaya bagi tubuh manusia dalam jangka waktu lama. Kita tidak ingin mencampur persembahan kepada sang Hyang Widhi Wasa dengan bahan-bahan yang berbahaya, sekecil apapun itu.
Dikalangan masyarakat Hindu India ada keyakinan untuk mempersembahkan madu dan susu kepada Tuhan. Karena madu dan susu adalah makanan terbaik sepanjang zaman, jadi memang yang terbaik yang dipersembahkan kepada Tuhan. Dengan demikian bisa kita simpulkan permen, minuman ringan, biskuit, coklat batangan dan sejenisnya yang berbungkus plastik dan mengandung bahan-bahan berbahaya bukanlah yang terbaik bagi persembahan yang sejatinya untuk kita sendiri dan akan kita nikamati sebagai prasadan atau lungsuran.
Ada istilah setitik nila rusak susu sebelanga. Demikian pula hendaknya persembahan yang agung tidak boleh ternoda oleh racun berbahaya yang membatalkan niat suci mengagungkan Tuhan. Sekecil apapun racun itu, misalnya dalam bentuk bahan pengawet atau perasa.
Ada pertanyaan, kalau tidak terbungkus rapat, sering persembahan mengundang semut, serangga atau binatang kecil lainnya datang menikmatinya. Jawabannya, justru itulah tujuan persembahan, untuk dinikmati oleh seluruh sekalian alam. Mereka seperti halnya manusia, adalah perwujudan Tuhan juga.
SMU 1 Mengwi menerima penghargaan presiden tahun 2010 untuk perhatian pada kebersihan kawasan sekitar, dalam photo ini terlihat siswa sedang membersihkan kawasan sungai dan pasar

Adakah pemedek yang siap membersihkan pura dan membawa pulang sampah plastik seperti rekan-rekan ini.
Lokasi Pura Lempuyang.

Bagaimana Racun Dioksin Masuk Dalam Tubuh?



Batur di Kintamani, berikut ikan-ikan yang hidup di dalamnya, paling rawan tercemar racun dioksin. (Photo Wayan Mertha)
Sifat dioxin adalah hydrophobic (water-fearing, menjauh dari air) dan lipophilic (fat-loving, melekat pada lemak). Misalnya air danau tercemar oleh dioxin dari penggunaan pestisida di daerah pertanian sekitar, dioxin tersebut menyebar ke air danau, tapi tidak larut melekat ke molekul air. Hanya ketika bersentuhan dengan ikan, juga hewan air lainnya, baik lewat kulit, insang atau makanan, dioxin langsung larut dalam lemak pada tubuh ikan.
Dioxin tidak melekat ke tanaman, karena secara alami tanaman tidak mengandung banyak lemak. Kalau ada kandungan lemak, ini sangat kecil, dan ada pada jaringan tertentu, terutama pada buah, misalnya kelapa, alpukat, dan kacang-kacangan.
Tak heran ikan air tawar adalah komponen rantai makanan yang memiliki rekor tertinggi dalam rangking kandungan dioxin. Meski demikian, kandungan dioksin justru lebih banyak diderita oleh pemangsa dan pemakan ikan. Karena kandungan dioksin berlipat ganda pada tubuh konsumen tingkat kedua dan ketiga.
Nah, tubuh ada dua: manusia dan binatang. Ketika masuk ke dalam tubuh binatang, dan binatang dimasak dan dikonsumsi manusia, dioxin menggunung pada tubuh. Makanya, konsumen pertama dalam rantai makanan biasanya tidak terlalu menerima dampak buruk. Ikan yang terpapar langsung oleh dioksin tidak langsung mengalami sakit dan mati. Tapi konsumen tingkat dua dan ketiga dalam rantai makanan, yakni hewan dan manusia pemangsa ikan tersebut yang mengalami masalah besar.
Kenapa bisa demikian? Mudah saja dilogikakan. Ketika ikan terpapar dioksin, kandungan dalam tubuhnya masih sangat rendah. Tetapi pemangsa ikan, termasuk manusia, mendapat kumpulan zat dioksin berlipat ganda dari beratus atau beribu ekor ikan yang mereka konsumsi.
Kita ambil contoh lagi di Amerika. Ketika dunia pertanian negeri tersebut marak menggunakan pestisida, hama tanaman berkurang, hasil panen berlipat. Tetapi pada rangkaian makanan terakhir, ternyata adalah elang yang menjadi korban. Elang botak, spesies asli Benua Amerika Utara, mulai benar-benar hilang dari benua tersebut. Para peneliti menemukan unggas yang terekpos hama tanaman ini mengalami penumpukan zat dioksin pada tubuh mereka. Apakah mereka langsung sakit dan mati? Tidak demikian kasusnya. Yang terjadi adalah telur mereka mengalami penipisan cangkang. Telur dengan cangkang tipis gampang pecah ketika dierami. Dan ini membuat regenerasi elang hampir terhenti.
Dalam dunia pertanian yang lain hal sama terjadi. Di daerah pertanian yang menggunakan pestisida, hama seperti burung pemakan bijih padi, tikus, wereng, kutu loncat, belalang dan ulat masih bertahan, tapi pemakan binatang pada rantai makanan kedua dan ketiga tersebut yang mengalami masalah. Karena pada jaringan rantai makanan terakhir tersebut penumpukan racun berlipat-lipat. Dan lenyapnya sebagian besar hewan di muka bumi bukan karena mereka sakit, tapi bayi atau telur mereka sulit tumbuh sehat.
Di wilayah pertanian Indonesia, meski belum ada penelitian intensif, hampir bisa dipastikan pemakaian pestisida ini telah memakan banyak korban dalam rantai makanan. Ular pemakan tikus, burung karnivora pemangsa burung kecil, belalang atau ular, dan seterusnya.
Kalian yang lahir tahun 1990an atau 2000an hampir pasti tidak pernah mengenal burung elang terbang di sekitar wilayah penduduk. Hewan ini masih sering terlihat memburu mangsa di daerah pertanian pada tahun-tahun 1980an. Sekarang di hutan pun sulit ditemui speciesnya.
Karena perburuan liar? Sepertinya bukan. Elang dikenal penerbang paling handal, memiliki sistim sayap yang membantunya bertahan berputar-putar di udara berjam-jam saat mengintai mangsa. Selain mampu bertahan lama di udara, elang memiliki kecepatan terbang luncur sangat istimewa. Tak heran kebanyakan pesawat terbang militer pengintai dan pemburu banyak memakai nama elang, Eagle. Jadi kepunahan elang jelas bukan karena perburuan. Juga bagi para pemburu, selain jarak tembak yang jauh, daging elang bukan favorit untuk diburu. Terlalu berotot dan sangat sedikit daging, pun rasanya tidak terlalu nikmat, sebagaimana daging binatang karnivora lainnya.
Bahkan bagi kebanyakan suku Indian di daratan Amerika yang identik dengan bulu elang, burung ini diburu sebagai simbol kebanggaan dan kedigdayaan, bukan karena dagingnya. Ini masuk akal, karena elang biasa bercokol di puncak bukit yang sangat sulit dijangkau, atau bersarang di ranting pohon yang sangat tinggi. Hanya manusia super yang bisa menjebaknya. Suku Indian bangga mengenakan bulu elang sebagai simbol keahlian mereka.
Jadi analisa kepunahan elang karena tumpukan racun pestisida dalam rantai makanan yang membuat cangkang telur mereka menipis sangat masuk akal. Yang juga menyedihkan, elang jambul adalah lambang negara kita. Iya, burung garuda adalah jenis elang species asli Indonesia dengan kekhasan bulu jambul dibelakang kepala. Suatu saat, kecuali di kebun binatang, kita hanya akan menemukan burung garuda sebagai patung dan gambar, karena sepecies aslinya sudah musnah, kecuali ada tindakan nyata dari seluruh komponen masyarakat untuk melestarikannya. Caranya memang tidak mudah, tetapi ini mungkin untuk dilakukan. Yakni harus kemauan bersama untuk mengganti sistem pertanian dari model pupuk-pestisida buatan pabrik menuju sistem pertanian organik. Sudah banyak yang memulai, dan kebanyakan kita sebagai konsumen harus segera berpindah menjadi pemakai produk organik, agar mereka yang berkecimpung dalam pertanian alami bisa segera mewujudkan hasil positif.
Langkah terbaik menghindarkan diri dari paparan dioksin, menurut laporan tersebut, adalah dengan berpindah dari pemakan daging menjadi konsumer vegan atau setidaknya menjadi vegetarian. Masyarakat Barat menerima 93% dioksin dari konsumsi daging dan susu serta produk turunannya. Penelitian di Amerika serikat pada tahun 1995 munjukkan angka-angka yang cukup mengejutkan seperti dalam tabel pada berikut ini.
Air danau di daerah sekitar pertanian non-organik, seperti pada Danau .
Daging yang berasal dari sapi yang dipelihara di tempat sampah sangat mungkin menjadi ‘jembatan’ dioksin menuju tubuh manusia

SUMBER DIOKSIN:
1. Bahan pemutih.
2. Bahan pestisida, termasuk beberapa jenis pembasmi nyamuk dan serangga.
3. Hasil reaksi kimia pembakaran sampah.
4. Makanan, terutama ikan, daging, susu dan produk turunan susu seperti keju.
5. Industry pipa PVC dan pabrik kertas.

APA YANG BISA KITA LAKUKAN

  1. Hindari atau kurangi makanan dari ikan air tawar, seperti ikan dari danau, sungai atau tambak, kecuali kamu yakin daerah sekitar pertanian tersebut bebas dari pertanian berpestisida. Hal yang sama juga berlaku untuk daging yang dihasilkan dari peternakan dengan pakan hasil dari pertanian berpestisida.
  2. Kurangi konsumsi susu dan telur yang dihasilkan dari peternakan dan produksi pabrik. Susu dan telur mengandung banyak lemak dan lemak adalah rumah megah bagi dioksin. Dioksin dari pakan ternak dengan mudah masuk ke jaringan susu dan telur.
  3. Mengurangi konsumsi daging dan ikan adalah tindakan yang baik, menjadi vegetarian jauh lebih baik dan menjadi vegan adalah yang terbaik.
  4. Jangan pernah membakar sampah, terutama yang berbahan plastik. Pada suhu tinggi, pembakaran plastik menghasilkan dioksin dan zat berbahaya ini terbang bebas ke udara.
  5. Ajak orang tua, saudara atau jadilah contoh di antara teman-temanmu untuk mengkonsumsi hasil pertanian organik.
  6. Jagalah kebersihan pakaian dari kemungkinan kotoran membandel seperti tinta. Untuk membersihkan noda tinta, orang tuamu biasa menggunakan cairan pemutih berbahan chlorin. Pemutih, baik untuk baju maupun yang dipakai di pabrik kertas, berbahan dasar dioksin.

 Tabel sumber asupan dioxin, koplanar dan dibenzofuran di Amerika hasil penelitian Arnold Schecter et. al., dimuat pada Journal of Toxicology and Environmental Health, 63:1–18, 2001
BAHAYA DIOKSIN
  1. Bersifat karsinogenik, sejenis zat kimia berbahaya yang memacu tumbuhnya sel kanker
  2. Menurunkan kadar, jumlah dan kualitas sperma pada pria dan hormon estrogen pada wanita yang berujung pada kemandulan.
  3. Manusia “mengkonsumsinya dengan senang hati” karena dioksin tertimbun dalam lemak pada daging, ikan dan susu, juga tidak sadar bahwa pembakaran sampah plastik adalah salah satu cara dioksin menyebar.
  4. Pemakaian luas pada produk pembersih, pemutih dan pembasmi hama/nyamuk.
  5. Bahaya dan akibat buruk dioksin tidak bersifat instan, tapi perlahan-lahan. Manusia tidak menyadarinya.
  6. Pada sebagian unggas, dioksin mengakibatkan cangkang telur menipis. Cangkang yang tipis membuat telur mudah pecah sebelum saatnya menetas. Ini mengganggu proses regenerasi. Pada industri peternakan ayam, ada obat untuk mengantisipasi, tapi di alam bebas yang terjadi adalah kepunahan spesies secara perlahan.

3R dan Penanganan Sampah Nasional

Gunungan sampah sebuah pemandangan biasa TPA kota-kota besar

Penanganan sampah  dengan cara mengurangi (REDUCE), menggunakan kembali (REUSE) dan mendaur ulang (RECYCLE) atau yang dikenal dengan istilah 3R sudah seperti sebuah  idiologi global. Negara -negara maju sudah menerapkan 3R  ini sejak lama dan sudah merupakan bagian gaya hidup keseharian warga mereka.
Bagaimana dengan Indonesia? Dengan jumlah penduduk hampir 250 juta jiwa, sampah yang dihasilkan tentu luar biasa jumlahnya. Sebagai gambaran penduduk DKI Jakarta menghasilkan  6.000 ton sampah setiap hari sehingga   mampu membuat satu gundukan sampah sebesar Candi Borobudur setiap dua hari atau 185 Candi Brobudur setiap tahun. Pengelolaan  sampah sebanyak itu memerlukan biaya pemerintah sebesar Rp 682.500.000 per hari (data dikutip dari presentasi pada pelatihan tenaga fasilitator lapangan 3R Kementrian Pekerjaan Umum tahun 2013), itu belum kalau semua sampah di TPA tersebut dikelola dengan penerapan sistim sanitary landfill yang optimal yang memerlukan biaya sampai 600 ribu per ton sampah.

Bagi yang belum pernah melihat TPA dengan sistem  sanitary landfill, mungkin tidak bisa membayangkan kenapa biayanya sangat besar. Sebagai gambaran singkat perlu diketahui sel sanitary landfill atau lahan penampungan sampah harus dilapisi bahan khusus geomembrane agar leachate (cairan yang keluar dari sampah) terutama dari sampah seperti plastic tidak meresap ke tanah dan meracuni tanah dan air. Sel ini juga harus ditutup tanah secara berkala dan untuk ini diperlukan alat –alat berat seperti excavator, bulldozer dan loader. Gas metan yang dihasilkan dari tumpukan sampah tersebut harus ditangkap dan diproses menjadi gas CO2. Kenapa? Karena gas metan
mempunyai efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global di bumi 21 kali lebih parah dibandingkan gas CO2. Kebanyakan TPA di Bali belum memiliki sistem ini. Hanya TPA Temesi di Gianyar yang memenuhi standar nasional.

Bagaimana dengan TPA di Bali? Pelayanan sampah yang disediakan oleh pemerintah daerah baru mencakup daerah perkotaan sehingga beban yang ditanggung oleh TPA di Bali belum seperti di kota besar seperti Jakarta. Ini dimungkinkan karena masyarakat Bali di pedesaan pada umumnya masih mempunyai lahan di belakang rumah atau teba di mana biasanya sampah rumah tangga di timbun atau dibakar disamping dibuang ke sungai. Penanganan sampah seprti itu tentu sudah tidak cocok lagi diterapkan mengingat sampah yang dihasilkan sudah berbeda dengan jaman dulu, ketika semua sampah adalah
sampah organik yang mudah diurai oleh alam. Sekarang jenis sampah sudah sangat beragam dan sebagian sampah adalah non-organik atau sampah yang tidak mudah diurai oleh alam termasuk bahan plastik, karet, bahan beracun seperti baterai, alat elektronik, bola lampu, kaleng bekas perstisida dan lainnya yang tentu akan membahayakan kesehatan dan lingkungan kalau dibakar atau ditanam apalagi dibuang ke sungai.

Di Bali juga masih banyak terdapat jurang atau lahan cekungan yang saat ini difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir. Bagi warga yang memang meminta tanah cekungan mereka diurug dengan sampah mungkin tidak tahu bahaya pencemaran tanah dan air sumur atau sumber air yang akan muncul di kemudian hari atau bahkan bencana lain seperti yang pernah terjadi di TPA Leuwigajah di Bandung yang
menewaskan 156 orang atau di TPA Bantar Gebang yang menewaskan enam orang.

Bagi warga yang berlangganan pelayanan jasa pengangkutan sampah, tapi sampahnya dibuang ke TPA illegal mungkin tidak menyadari bahwa yang dilakukan sebenarnya hanya memindahkan masalah ke desa atau tempat orang lain. Sedangkan pemerintah daerah belum mampu menangani sampah dari seluruh warga. Jadi jalan keluarnya adalah memilah sampah dari sumbernya (rumah, kantor, sekolahan, dan lain-lain)
dan menerapkan disiplin 3R.

Pemerintah pusat melalui kementrian Pekerjaan Umum telah mencanangkan pembangunan TPA dengan sistem sanitary landfill di beberapa kabupaten yang mempunyai lahan. TPA yang sekarang kepanjangan dari Tempat Pemrosesan Akhir dibangun untuk menampung dan memproses sampah residu atau sampah yang sudah tidak dapat digukan lagi dan sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap
kesehatan dan lingkungan . Dengan demikian umur TPA
yang dibangun diharapkan menjadi lebih panjang. Namun cara pandang kita yang hanya melihat

sampah adalah barang yang dibuang, membuat sampah yang diangkut ke TPA saat ini tidak hanya residu melainkan sebagian besar adalah bahan yang masih bisa digunakan kembali atau didaur ulang. Misalnya sampah organik yang bisa dijadikan kompos dan berbagai sampah plastik, logam  dan kertas yang masih mempunyai nilai ekonomis . Hal ini tentunya akan memperpendek umur TPA karena akan cepat penuh. Masalah yang akan muncul adalah pemerintah daerah akan kesulitan menyediakan lahan untuk TPA baru karena harga lahan yang mahal dan  juga biasanya karena penolakan  dari masyarakat sekitar.

Dampak pemanasan global berupa perubahan iklim yang menyebabkan berbagai bencana banjir dan kekeringan di berbagai tempat sudah semakin nyata. Lembaga dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sudah mengumumkan bahwa selain ancaman krisis keuangan , dunia juga kemungkinan akan mengalami krisis pangan dan air. Hal inilah yang mengharuskan
negara-negara di dunia yang tergabung dalam berbagai forum seperti Protokol Kyoto sepakat untuk melakukan berbagai usaha untuk mengurangi emisi gas rumah
kaca (GRK) dan mejaga kelestarian alam yang salah satunya adalah melalui penanganan sampah yang tidak membahayakan.Dunia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara
penyebab pemanasan global karena banyaknya illegal logging atau penebangan hutan liar yang mengakibatkan kerusakan hutan yg sangat parah. Padahal hutan di Indonesia merupakan paru paru dunia dan dapat berfungsi menurunkan percepatan pemanasan global. Penanganan sampah yang masih mengunakan sistem open dumping atau pembuangan atau penimbunan sampah di tempat terbuka tanpa fasilitas pemerosesan menyebabkan pencemaran
tanah dan air di samping emisi gas metan yang membahayakan. Pada gilirannya hal ini akan mengancam kehidupan manusia di muka bumi ini.

Undang-undang Sampah

Untuk menanggulangi permasalahan persampahan, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan undang- undang no 18 tahun 2008 yang mengatur penutupan TPA yang menggunakan sistim open dumping (pembuangan terbuka) pada tahun 2013. Disebutkan pula dalam undang-undang ini tentang kewajiban setiap orang melakukan pengurangan  sampah dan berbagai larangan seperti pengelolaan sampah yang
menyebabkan pencemaran atau perusakan lingkungan, pembakaran sampah yang tidak sesuai dengan persaratan teknis pengelolaan sampah , dan pembuangan sampah tidak pada tempatnya.
Dengan keluarnya Undang-undang yang mendorong
usaha pengurangan sampah dan diperkuat dengan Peraturan Pemerintah (PP) 18 tahun 2012 tentang pembatasan timbunan sampah, pendauran ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah, berarti konsep 3R sudah menjadi kebijakan nasional. Berarti 3R sebuah program pemerintah seperti program KB dalam bidang kependudukan. Sebagai sebuah program pementah, masyarakat suka tidak suka, mau tidak mau harus mentaati. Karena pelakunya adalah masyarakat, untuk keberhasilan program ini diperlukan terjadinya perubahan cara pandang dan gaya hidup ataupun perilaku masyarakat dalam menangani sampah  dari perilaku menyampah menjadi membatasi sampah, perilaku membuang atau membenci  sampah menjadi menggunakan atau memanfaatkan sampah.
Dalam keseharian masyarakat harus melihat 3R sebagai urutan prioritas, di mana usaha mengurangi harus dilakukan pertama, baru kemudian reuse dan recycle sehingga kalaupun ada sampah, adalah sampah yang sudah tidak dapat diapa- apakan lagi. Benar-benar residu yang kemudian akan diangkut ke TPA untuk diproses secara aman.

Pengolahan Sampah Yang Ideal


Di Bali, TPA Temesi di Gianyar menjadi percontohan pengolahan sampah ideal.

Inilah caranya.
Langkah pertama, sampah dipilah antara yang organik dan non-organik. Sampah organik dijadikan kompos, yang non organik yang masih layak akan dijual. Sisa sampah yang tidak dapat diolah sama sekali (residu) dibuang di areal khusus yang air rembesannya tidak meresap ke tanah dan diolah sampai level yang tidak membahayakan lingkungan. Proses pengolahan ini melewati beberapa kolam khusus sampai pada titik dimana residu terahir dianggap aman untuk dibuang pada area khusus yang disebut sanitary landfill. 


Diharapkan pemerintah masing-masing kabupaten di Bali meniru pola penglolahan ini, sebuah sistem yang aman dan menghemat ladang TPA.

  

Gunung Tambora, Fenomena Terbalik Global Warming




Pemandangan menakjubkan di puncak Gunung Tambora. Anehnya, letusan Tambora 200 tahun lalu justru membuat dunia menggigil kedinginan.

 Tanggal 10 April 1815, Gunung Tambora di Sumbawa memuntahkan kekuatan magma yang demikian hebat, setelah beberapa letusan besar beberapa hari sebelumnya. Letusan ini tercatat sebagai yang paling dahsyat sepanjang sejarah manusia di muka bumi. Demikian hebat letusan hingga suaranya menggema dan terdengar hingga pulau Sumatra. Gubernur Jendral Inggris untuk Timur Jauh yang berkantor di Batavia/Jakarta, Thomas Stamford Raffles, mengira telah terjadi pemberontakan dan pembakaran gudang senjata. Beliau segera memerintahkan pasukan untuk berpatroli ke arah timur Batavia.
Kalian tahu, jarak Tambora ke Sumatra lebih dari 3,000 kilometer.
Raffles baru sadar beberapa jam kemudian ketika seluruh langit Jawa gelap tertutup awan hitam. Ternyata ini bencana gunung api, bukan ledakan dari gudang senjata. Benar, muntahan magma bercampur dengan batu dan tanah, menurut para ahli geologi dunia saat ini, diperkirakan terlontar hingga ketinggian 30 sampai 50 kilometer di atas permukaan bumi. Demikian dahsyat letusan hingga abu vulkanik Tambora menyebar ke hampir seluruh permukaan bumi, hingga beberapa bulan dan tahun berikutnya. Abu ini menutupi seluruh bumi utara hingga tahun berikutnya. 
Apa hubungan Tambora dengan global warming? Sebenarnya tidak ada hubungan langsung. Tapi untuk lebih memahami fenomena pemanasan global, kita perlu belajar dari fakta terbalik dari global warming. Dalam hal letusan Tambora, yang terjadi adalah global cooling, pendinginan global. Yang manapun terjadi, manusia, petani, tanaman dan hewan tidak siap dan akan mengalami akibat mengerikan.

Saling ketergantungan

Selama jutaan tahun, makhluk hidup di bumi tergantung dengan fenomena alam dan lambat laun menyesuaikan diri untuk bertahan dan berkembang. Misalnya, uap air yang akhirnya menjadi awan dan mendung sebenarnya juga termasuk gas rumah kaca yang menimbulkan panas. Gas yang membuat bumi menjadi hangat. Sifatnya memantulkan panas. Jadi selain memantulkan sebagian panas matahari ke angkasa, awan juga memantulkan panas dari bumi, sehingga suhu bumi lebih stabil. Tanpa awan, suhu siang hari akan sangat panas karena seluruh sinar matahari langsung di terima permukaan bumi. Sebaliknya pada malam hari suhu akan membeku, karena tidak ada gas yang menahan. Jadi, pada dasarnya, green house gas sangat diperlukan bumi, agar bisa menopang semua makhluk hidup.
Ya, karena berlangsung terus menerus, fenomena ini justru menguntungkan makluk hidup. Air laut menguap menjadi awan, awan (meskipun membuat udara gerah dan panas) menjadi hujan, dan hujan menjadikan bumi hijau dan segar penuh sumber air, danau dan sungai. Tanpa fenomena air-awan-hujan, bumi akan kering seperti bulan dan beberapa planet lain di tata surya.

Dalam kasus letusan Tambora, bumi bukan hanya diselimuti oleh awan dari uap air laut, tapi partikel abu letusan gunung. Akibatnya hanya sebagian kecil sinar matahari yang tembus ke bumi. Suhu bumi menjadi sangat dingin, sedikit terjadi penguapan air laut. Tanaman pangan, karena ditanam sesuai musim, tidak bisa bertahan hidup. Manusia pun mati kelaparan atau karena saling bunuh mempertahankan sumber makanan.

Demikian juga dengan apa yang kita sebut letusan green house gas masa kini. Yang terjadi bukan fenomena tiba-tiba seperti Tambora. Letusan masa kini adalah fenomena kecil tetapi terjadi terus menerus dan datang dari milyaran sumber di seluruh muka bumi: moncong knalpot, cerobong pabrik, kompor di dapur, dan bahkan botol mungil yang sering bersembunyi di tas kalian atau kakak-kakak kamu: parfum, deodorant, penyegar mulut, hair/body spray.

Kumpulan berbagai gas dari milyaran moncong-moncong mini inilah yang justru mengancam bumi. Gas-gas yang keluar terus menempel di langit, membentuk payung raksasa yang serupa dengan rumah kaca maha besar. Benar, seperti rumah dari kaca, lapisan gas tersebut bisa meneruskan panas matahari ke bumi, tapi pantulan panas dari bumi yang semestinya lepas ke angkasa tertahan oleh lapisan raksasa ini. Akibatnya bumi menjadi panas dan gerah. Kalau fenomena Tambora membuat musim panas menjadi bersalju, suatu saat, kalau fenomena global warming dibiarkan, akan terjadi fenomena terbalik, bumi tidak lagi memiliki musim dingin. Tidak ada lagi es dan salju. Bongkahan es di belahan bumi utara dan selatan, dan juga di puncak-puncak gunung seperti Himalaya, Jaya Wijaya, Everest akan mencair. Permukaan laut meningkat dan yang lebih menakutkan adalah terjadi banyak badai karena efek suhu yang meningkat drastis.

 Pendaki di puncak Tambora. Kita bisa belajar fenomena global warming dari letusan gunung di Nusa Tenggara barat ini.

Fenomena masa kini

Saat ini, yang mengkhawatirkan adalah justru letusan-letusan, atau lebih tepatnya semburan-semburan, kecil dari ‘milyaran’ botol parfum dan deodorant, knalpot mobil, moncong pabrik, deru mesin jet, kapal laut, sepeda motor. Kalau fenomena Toba dan Tambora terjadi sekali dalam puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu tahun, letusan kecil green house gas saat ini terjadi terus menerus. Milyaran kali setiap detik. Benarkah?
Ayo kita hitung sama-sama. Pakai rumus perkalian matematika sederhana, kita jumlah berapa terjadi letusan tiap detik di muka bumi dari kendaraan bermotor. Kita ambil contoh sepeda motor satu silinder. Sebagaimana teori mesin di pelajaran ilmu alam, putaran mesin terjadi karena ledakan di dalam silinder. Satu ledakan pada motor 2 tak menghasilkan satu putaran, sedang pada mesin empat tak menghasilkan dua putaran. Jumlah putaran dan ledakan ini dihitung per menit, istilahnya Revolution Per Minute (RPM). Nah, coba perhatikan dashboard mobil atau motor. Di sana tertera angka-angka, salah satunya penghitung RPM. Kalau di mobil biasanya jarum yang sebelah kanan. Namanya Ordometer, penghitung putaran mesin. Oh ya, kalau di kendaraan roda dua biasanya hanya motor laki, bukan bebek atau matik, yang memiliki Ordometer. Motor ibu-ibu tidak perlu, karena memang ibu-ibu tidak perlu pusing mengukur performa mesin pada kecepatan tinggi.
Nah, kalau mobil niaga yang paling banyak beredar di jalan raya biasanya bermesin empat siliender, sedan sport enam hingga 12 silinder, kalau truk atau bus bisa 12 hingga 18 silinder. Saat melaju pada kecepatan 80 hingga 100 kilometer perjam pada jalan datar, mesin bergasing rata-rata pada RPM 5.000, berarti dalam satu menit terjadi 5,000 putaran mesin. Kalau mesin dua tak berarti terjadi 5000 ledakan di silinder, mesin empat tak separohnya, 2.500 ledakan. Kalau mobil empat silinder berarti 2500 X 4 = 10.000, kalau 10 silinder ya 25.000 ledakan. 
Berita baiknya, mobil dan motor masa kini memakai teknologi empat tak, jadi lebih sedikit letusan per hari. Teknologi dua tak hanya dipakai mesin motor lama produksi hingga tahun 2005, seperti Vespa atau Yamaha RX King.
Sebuah bus dengan 10 silinder yang berjalan selama 10 jam sehari dengan putaran mesin 5,000 per menit menghasilkan 25.000 X 60 (menit) kali 10 (jam)= 15.000.000. Iya, lima belas juta letusan di silinder per hari. Dalam setahun kendaraan tersebut memproduksi lebih dari lima setengah milyar letusan.

43 milyar ledakan per detik di muka bumi.
Kalau kita pukul rata tiap kendaraan memakai lima piston, beroperasi selama lima jam per hari dengan kecepatan mesin rata-rata 5000 RPM, ketemu angka 3.750.000 ledakan per hari. Rata-rata mobil tersebut memproduksi 43 ledakan per detik. Iya khan, 3.750.000 dibagi 86.400 detik. Dalam setahun terjadi 1.368.750.000 ledakan di ruang bakar. 
Kalau seluruh kendaraan di muka bumi ini jumlahnya satu milyar, apakah kalian bisa menghitung berapa ledakan per tahun? Ya, coba pakai kalkulator, satu milyar kali satu milyar tiga ratus enam puluh delapan juta tujuh ratus limapuluh ribu. Wuih, angkanya gak ketemu ya? Saking panjangnya deretan angka, kalkulator paling canggih pun gak punya cukup memori untuk menghitung. Eh, perkalian satu milyar khan tinggal nambah angka nol sebanyak sembilan. Berarti ini jumlah ledakan tiap tahun 1.368.750.000.000.000.000. Wah, gimana cara membilangnya ya? Tidak heran meski ledakan kecil, tapi karena jumlahnya sangat-sangat besar dalam hitungan milyar kali milyar per tahun dan terjadi terus menerus, bumi terancam menjadi sangat panas dalam beberapa puluh tahun mendatang.

Ini baru hitungan dari letupan pada silinder motor dan mobil. Kita masih perlu menghitung efek pembakaran bahan bakar kapal laut, pesawat terbang, alat transportasi militer, pembakaran sampah, pembakaran di tungku asap pabrik, ledakan mesiu dari mesin perang, serta efek panas dari gas metana dari kotoran hewan dan manusia. Ingat juga, mesin pabrik biasanya beroperasi 24 jam per hari, terus menerus. Kapal laut, walaupun sekecil Ferry penyeberangan Gilimanuk – Ketapang, beroperasi 24 jam per hari, terus menerus, kecuali saat kapal mengalami perbaikan.
Bencana seperti Tambora, dalam fenomena terbalik sebagai global warming, bisa terjadi secara perlahan tapi pasti, kalau kita sekalian dan teman-teman di seluruh bumi tidak berpartisipasi menghentikan atau mengurangi penyebabnya. Cara sederhana adalah dengan mengubah gaya hidup yang ramah lingkungan, misalnya dengan memanfaatkan transportasi umum, bukan kendaraan pribadi yang boros energi.

Cacing, Agen Penjaga Kesuburan Alam.

Kalian pasti pernah mendengar istilah  CIA (Amerika Serikat), BIN (Indonesia), M16 (Inggris), KGB (Russia) dan masih banyak lagi. Tiap negara punya agen rahasia untuk menjaga keamanan nasional masing-masing. Mereka agen nega- ra yang sangat penting perannya. Meski sangat berperan penting, tidak banyak dari kita yang tahu seperti apa perkerjaannya, bagaimana penampilannya, baju seragam kebesarannya, di mana tinggalnya. Padahal mereka ada di sekitar kita, kadang di lingkungan desa, banjar, kampus, sekolah, kantor pemerintah, pasar, tergantung dari kasus yang ditangani. Meski pekerjaan mereka sangat canggih dan rumit demi menjaga keamanan negara baik dari ancaman musuh dari luar maupun  dari dalam, kadang mereka berpenampilan dan berprofesi sementara sebagai tukang kayu, tukang batu, sopir, gembala bebek, pedagang pasar, atau apapun demi mendapat informasi dan sudut pandang pengamatan yang akurat.

Cacing tanah diibaratkan sebagai pahlawan kesub- uran tanpa tanda jasa. (Sumber: www.aningku.com)
Nah, hal yang hampir sama juga dilakukan berbagai jenis cacing tanah. Binatang ini ada di sekitar kita, tapi kebanyakan dari kita tidak tahu apa yang mereka kerjakan, apa kontribusinya bagi kehidupan. Parahnya, binatang ini sering digambarkan sebagai ‘kasta’ yang tidak terhormat, jorok dan menjijikkan, hidup di tanah basah atau tempat-tempat sampah. Padahal peran mereka sangat luar biasa dalam menjaga kesuburan tanah. Seperti agen keamanan yang sangat diperlukan dalam menjaga keamanan, cacing memiliki peran penting yang tak tertandingi. Demikian penting sehingga digambarkan oleh para ahli andai seluruh cacing di bumi lenyap, semua jenis tanaman dan tumbuh-tumbuhan akan mati perlahan dalam hitungan lima hingga 10 tahun. Wah, sebegitu penting ya pekerjaan cacing?

Ih ada cacing, jijiiiiik…...!” Ini teriakan yang sering kita dengar dari teman yang tidak sengaja menginjak atau pun melihat seekor cacing. Sebenarnya cacing tidak menjijikkan. Kita memandang cacing sebagai binatang kotor, pertama karena pengaruh orang tua dan dan orang orang disekitar kita yang menganggapnya sebagai binatang kotor. Atau kita pernah melihatnya di tempat sampah yang kumuh, becek dan berbau. Padahal cacing adalah makhluk hidup yang sangat berguna bagi tanaman, segala macam tumbuh-tumbuhan, hewan dan tentunya juga bagi manusia. Selain di tempat kotor, cacing juga banyak terdapat di dalam dan permukaan tanah, di tempat di mana banyak daun-daun gugur bertebaran atau sisa-sisa makanan menumpuk.

Karena sangat membantu menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah, peran cacing sangat vital. Cacing mengurai tanah dan sampah serta daun-daun menjadi zat-zat hara yang siap diserap akar. Para ahli pertanian dan hortikultura meyakini andai cacing lenyap sama sekali, seluruh tanaman dimuka bumi akan lenyap juga. Tanpa tanamanan, berarti semua hewan dan manusia juga pasti mati kelaparan. Mengerikan ya?

Wah, ternyata Tuhan menciptakan cacing di alam ini dengan tujuan mulia. Eh, sebenarnya Tuhan tidak menciptakan cacing, karena cacing itu sendiri perwujudan Tuhan. Yakni menjaga alam semesta agar tetap subur dan nyaman bagi manusia. Bahkan di dalam perut kita, juga di dalam perut binatang, terdapat cacing jenis tertentu yang berperan menjaga sistem pencernaan tetap sehat, mengolah sisa makanan menjadi kotoran yang seimbang, tidak menyiksa usus dan bagian pencernaan yang lain. Tanpa cacing, sisa makanan akan meracuni tubuh, karena ada gas-gas dan zat sisa makanan yang tidak terurai dan mengganjal di dalam perut. 
Seperti Manusia, Cacing Juga Punya Pantangan 

Yang menjadi masalah, dunia pertanian modern membuat lahan yang dulu rumah tinggal ideal bagi cacing, menjadi tempat yang tidak lagi nyaman bagi binatang pengurai ini untuk tinggal, apalagi berkembang biak. Faktor utama adalah pemakaian pupuk buatan dan pestisida pembunuh hama. Pupuk buatan, seperti Urea, ZA (zinc, seng), KCl (Clorine), NPK (Nitrogen, Phospat, Potassium), cenderung membuat komposisi tanah menjadi asam dan kehilangan keseimbangan alamiah. Tanah yang asam cenderung kering, karena kehilangan daya serap. Ketika hujan air bablas lewat. Ketika sedikit kemarau menjadi kering kerontang. Tanah subur bersifat seperti spon. Ketika hujan air diserap dan disimpan untuk jangka waktu lama, sehingga ketika kemarau tanah ini tetap lembab dan basah.
Badan PBB untuk lingkungan hidup, UNEP, melaporkan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara tropis yang mengalami kerusakan struktur tanah paling parah, karena pemakaian pupuk kimia berlebihan, istilahnya over-ferlilising. Kerusakan ini ditandai dengan makin meluasnya lahan kering saat musim kemarau. Benar, karena pemakaian pupuk buatan yang berlebihan, tanah menjadi asam dan kehilangan struktur alami, terutama humus di permukaan. Ketiadaan humus membuat tanah kehilangan daya simpan air. Keasaman tanah membuat cacing enggan berkembang, ketiadaan cacing berarti kehilangan zat hara. Wah, jadi lingkaran setan deh.
Dalam ilmu biologi, kondisi keasaman cairan, juga tanah, tanaman, tubuh manusia dan hewan, ditandai dengan satuan pH. pH yang normal berada di angka 7, ini setara dengan air murni pada suhu 25 derajat. Kalau dibawah angka 7 namanya asam, diatas 7 basa. Kalau tanah menjadi asam, cacing dan berbagai makhluk kecil yang lain akan tersiksa. Binatang, juga manusia, yang tersiksa tidak akan bisa hidup dan bekerja normal. Mereka juga kehilangan gairah untuk berkembang biak, menghindari anak cucu mereka sengsara dalam hidup.
Dalam rentang waktu yang lama, pemakaian pupuk juga merusak struktur alami tanah dan meningkatkan keberadaan partikel berat berbahaya seperti mercury, seng, timbal dan uranium. Partikel berbahaya ini dengan mudah diserap akar, masuk ke daun dan buah dan berpindah ke meja makan. Partikel berat diyakini sebagai pemicu kanker dan tumor pada manusia. Di Eropa dan Amerika banyak bayi terjangkit blue baby syndrome, sejenis penyakit akut akibat partikel berat yang masuk dalam makanan. 
Pembasmi hama juga sangat ditakuti cacing. Namanya pembasmi, berarti ini racun pembunuh. Meski ditujukan untuk membunuh hama seperti jamur, serangga, ulat, virus, atau tikus, pestisida ini mau tak mau jatuh terserap ke dalam pori-pori tanah dan meracuni cacing. Bukan hanya hama yang mati, tapi cacing dan binatang pengurai lainnya juga sekarat.
Ketiadaan cacing tanah di area pertanian adalah tanda buruk, kalau tidak dikatakan benar-benar buruk. Cacing mengolah tanah dan sisa-sisa daun serta kotoran binatang menjadi pupuk alami siap saji. Tanpa cacing ‘dan kawan-kawannya’ sebagai bakteri pengurai, jerami, batang padi atau jagung, tidak akan cepat membusuk. Tanpa cacing, kotoran binatang yang kita anggap pupuk alami bagi tumbuhan juga tidak banyak berguna, kalau tidak dikatakan meracuni. Benar, kotoran hewan mengandung ammonia dan gas methane cukup tinggi yang justru membakar akar tanaman. Cacing mengubahnya menjadi zat-zat yang siap diisap akar tanaman.


Cacing tanah. (www.sidoarjo.olx.co.id)

Seperti koki restoran atau ibu-ibu di dapur

Dalam kehidupan modern, cacing bisa digambarkan seperti koki di warung dan restoran atau ibu-ibu kita di dapur. Mereka memilih, meracik dan mengolah bahan mentah menjadi makanan yang harum, enak dan menyehatkan. Bayangkan kalau kalian makan direstoran dan yang tersedia di meja makan adalah bahan mentah semua. Sayur mentah, beras mentah, lauk pauk mentah, bumbu mentah. Mungkin kita bisa nekat menyantapnya, tapi akan sulit menelan. Kalaupun bisa tertelan, bahan makanan tersebut akan meracuni tubuh. Seperti koki, atu ibu kita, itulah peran cacing bagi tanaman. Mengolah bahan mentah menjadi santapan siap saji, enak dan menyehatkan.

Selain kondisi tanah dengan Ph netral dan bebas dari pestisida, cacing juga butuh suhu yang nyaman untuk tinggal. Sama seperti kita ya, kalau udara gerah atau dingin membeku, kita jadi tersiksa. Loh, memang cacing bisa kepanasan dan kedinginan? Di ‘rumah tinggal’ dalam tanah, cacing hidup menyesuaikan diri terhadap perubahan suhu. Suhu yang dimaksud adalah suhu normal. Musim dingin dan musim panas. Nah, inilah yang menjadi masalah. Dulu nenek moyang kita terbiasa menimbun jerami di pojok sawah. Jerami ini dibiarkan membusuk untuk dijadikan pupuk alami, dengan bantuan cacing, tentunya. Tapi ini perlu proses dan waktu.

Karena tidak cepat membusuk, akhirnya petani mengambil jalan pintas untuk memusnahkannya dengan api. Mereka punya pertimbangan ekonomis, tidak perlu pupuk alami dari jerami, karena bisa membeli pupuk buatan. Ini justru memperburuk habitat setempat karena api tidak hanya membakar jerami, tapi juga menghanguskan tanah di bawahnya. Cacing tidak seperti kita yang tinggal di permukaan datar. Kita bisa lari cepat, atau naik kendaraan menghindari kebakaran. Di dalam tanah, sangat sulit untuk berpindah dari waktu ke waktu. Ketika api membakar permukaan, cacing tidak punya pilihan berpindah tempat. Dia tidak memiliki kaki-kaki dan alat pembuat terowongan yang cepat untuk melarikan diri. Nasib apes jika para petani masih memilih membakar jerami, padahal jerami, dengan bantuan cacing, akan menjadi pupuk alami yang sangat diperlukan tanah. Lagi – lagi masalah ekonomi dan kerakusan manusia menjadi akar musabab kekejaman tak terlihat mata ini.

Cacing tanah, sebagaimana fungsinya sebagai pengurai dan penjaga kesuburan tanah, penjaga keseimbangan dan kesuburan alam.
Maka meracuni tanah dengan pembasmi hama ataupun pupuk buatan, atau membakar sampah dan jerami sembarangan, sama dengan meracuni ciptaan Yang Maha Kuasa.
Semua yang diciptakan di dunia ini sudah diatur oleh yang di atas untuk saling melengkapi dan membantu satu sama lain. Biji padi diciptakan untuk dinikmati manusia. Jerami menjadi jatah makanan makhluk hidup yang lain. Kalau kita membakarnya, di samping telah merampas jatah makanan mereka, kita juga telah membuat tanah menjadi ladang pembantaian. Belum lagi asapnya menjelma menjadi karbondioksida yang memanaskan bumi.
Bagaimana kalau bumi Bali makin panas? Apa yang akan terjadi kalau Bali makin kekeringan karena curah hujan tiap tahun makin sedikit? Tentu pulau ini tidak lagi menjadi pilihan turis untuk berwisata. Bagaimana kalau tanah di Bali mati dan kita tergantung sepenuhnya dari produk impor? Bagaimana kalau sebutan Bali berubah menjadi island of rubbish (pulau sampah) seperti pernah  ditayangkan televisi luar negeri beberapa waktu lalu?



Selain pestisida dan pupuk buatan, pembakaran jerami mengancam keberadaan cacing, agen kesuburan tanah yang sangat luar biasa 


Bahan Renungan

  • Kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama. 
  • Menjaga alam atau Ibu Pertiwi dengan tidak meracuni atau mencemari air, tanah dan udara serta tidak merusak siklus alam adalah bentuk yadnya sesuai dengan yang ditulis dalam Sastra ‘Sarvam Kalu Idam Brahman’ (alam itu sendiri adalah Tuhan). 
  • Tuhan menciptakan siklus alam untuk menjamin kelangsungan hidup makhluk di bumi. Sepatutnya manusia turut menjaganya dan bukan merusaknya 
http://www.pptbackgrounds.net/globe-earth-hands-backgrounds.html

Terima kasih atas dukungan dan partisipasi anda dalam menjaga kelestarian alam sebagai wujud bhakti kepada Ibu Pertiwi.